Gay Indonesia
http://gayindonesia.net
Tempat utk berbagi dan berdiskusi, persahabatan, teman dan cinta gay Indonesia



Sekarang ini Sel Apr 25, 2017 2:13 am

Waktu dalam UTC + 7 jam




Postkan topik baru Balas ke topik  [ 17 post ] 
Pengarang Pesan
PostDipost: Kam Feb 20, 2014 10:16 am 
Offline
Prime Minister
<b>Prime Minister</b>
Avatar user

Bergabung: Sab Jul 16, 2011 11:58 pm
Post: 6377
Has Liked: 614 times
Been Liked: 112 times
Deskripsi diri: ...Simple...
Tri Rismaharini

oleh: Sarlito Wirawan, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Saya tidak kenal dengan Ibu Wali Kota Surabaya yang kondang ini. Bertemu langsung juga belum pernah, walau hanya dari kejauhan. Saya hanya mengenalnya dari media massa yang memang sering memberitakan kegiatan-kegiatannya dalam membangun kota metropolitan nomor dua se-Indonesia itu.

Tetapi saya sangat terkesan dengan wawancara Ibu Risma dengan Najwa Shihab dalam acara ”Mata Najwa” yang ditayangkan pada 12 Februari 2014. Kebetulan saya menonton acara itu dari televisi mobil saya. Persis satu jam 30 menit saya di perjalanan, bersama sopir, di tengah kemacetan (walaupun tidak hujan). Jadi saya bisa fokus betul mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya dan mengamati setiap gerak tubuhnya dan mimik wajahnya, bahkan tetesan airmatanya.

Kesimpulan saya: Tri Rismaharini adalah sebuah fenomena luar biasa! Sebetulnya tidak ada yang luar biasa dari tampak luarnya. Tubuhnya tidak tinggi semampai seperti Sophia Latjuba (yang belakangan dikabarkan comeback ke Indonesia dan langsung membuat heboh infotainment), tidak juga secantik Ibu Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany.

Tubuh Risma kekar berbalut jilbab dan jarinya tidak lentik bak penari, melainkan bulat-kuat seperti jari-jemari ibu-ibu petani yang biasa memegang pacul (ini saya perhatikan ketika Ibu Risma menghapus air matanya). Dia juga tidak pandai bersilat lidah seperti Farhat Abbas, bahkan tidak pandai bicara (apalagi bicara diplomatis) seperti anggota DPR. Dia bukan politisi, atau pengacara.

Dia hanya seorang arsitek dan mantan Kepala Dinas Pertanaman dan Kebersihan di Kota Surabaya (tipikal PNS dan birokrat yang kebetulan mengurus taman dan sampah Surabaya). Tetapi dia tahu betul apa yang dikatakannya dan bisa mempertanggung jawabkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Inilah contoh konkret dari ”satunya kata dengan perbuatan”.

Dari ceritanya kepada Najwa, saya mengambil kesimpulan bahwa Risma sangat religius. Religiositasnya sangat berbeda dari religiositas Wali Kota Bengkulu Helmi Harun, yang menjanjikan umrah dan haji gratis serta hadiah mobil Kijang Innova dan Honda CRV buat masyarakat yang paling rajin salat subuh berjamaah di masjid. Spontan keesokan harinya masjid dipenuhi oleh calon-calon peserta umrah/haji bermental matre (apalagi buat PNS diwajibkan datang, dicatat kehadirannya dan kena sanksi kalau tidak hadir).

Religiositas Risma nampak dari intuisinya yang kuat, yang menurut Risma sendiri merupakan petunjuk Tuhannya. Tuhan setiaphari memberitahu kemana dia harus pergi hari itu, ke barat atau ke utara, maka dia pun pergi ke arah itu, dan selalu dia menemukan warganya yang sedang bermasalah, seperti anak telantar di pinggir jalan yang membutuhkan bantuan Dinas Sosial, pelacur berumur 60 tahun yang masih praktek dengan langganan anakanak SD( karena ia mau menerima bayaran Rp1.000-2.000), atau banjir yang ketika ditelusuri penyebabnya adalah pagar orang yang membuat air mampat (maka spontan dia suruh bongkar pagar itu).

Maka ketika dia ditanya oleh Najwa, ”Masih tegakah Ibu mengundurkan diri sebagai wali kota, walaupun sudah menerima 51 penghargaan dan calon wali kota terbaik dunia? Apa yang saya harus katakan kepada warga Surabaya?” Pecahlah tangis Risma. Dia kasihan kepada jutaan warga Surabaya yang masih perlu bantuannya. Tetapi dia juga tidak mau, sebagai wali kota, mengetahui adanya warganya yang masih menderita dan dia tidak berbuat apa-apa.

”Nanti kalau saya dipanggil dan ditanya Tuhan (dia lebih banyak menggunakan istilah ‘Tuhan’ daripada ‘Allah’) dan saya tidak bisa menjawab, saya tidak akan masuk surga. Saya tidak mau tidak masuk surga!” Alangkah religiusnya, walaupun tidak sepotong ayat pun keluar dari bibirnya. Risma (yang hanya ibu rumah tangga dan senang keluar makan malam dengan suami dan anakanaknya) jelas jauh religius daripada ustaz-ustaz kondang yang memasang tarif jutaan rupiah sekali taushiah, yang menolak hadir jika tarifnya tidak disepakati, dan punya rumah mewah dan motor gede dan sering masuk infotainment. ***

Berita-berita yang saya ikuti belakangan banyak yang membantah isu tentang keinginan Risma untuk mundur. Menteri Dalam Negeri pun membantah bahwa Wali Kota Risma akan mundur. Bahkan sejumlah ormas dan LSM demo di depan rumah Risma, menuntut agar dia tidak mundur, tetap sebagai wali kota Surabaya (suatu fenomena yang luar biasa, ditengah-tengah maraknya tuntutan mundur pada banyak kepala daerah).

Tetapi ketika acara ”Mata Najwa” direkam, tampaknya tekanan untuk tidak mundur belum terlalu kuat, dan ketika ditanya oleh Najwa Shihab, Risma masih jelas-jelas menyatakan bahwa dia tidak berani untuk berjanji kepada rakyat Surabaya untuk tidak mundur. Mengapa begitu? Risma sendiri menyatakan bahwa dalam bekerja dia selalu melibatkan emosinya.

Capek sekali memang, tetapi itulah yang bisa membuatnya berempati pada kesusahan orang lain dan karenanya ia bisa merespons sampai tuntas, tas. Di sisi lain, pelibatan emosi inilah yang juga menyebabkannya tidak kuat menghadapi persoalannya dengan Wakil Wali Kota, Wisnu Sakti Buana, yang baru-baru ini dilantik tanpa kehadiran Risma (dengan alasan sakit).

Saya tidak jelas apa penyebab yang sesungguhnya, tetapi dari yang saya ketahui melalui media massa, Wisnu Sakti Buana adalah salah satu anggota DPRD yang ikut memakzulkan Risma dari jabatan wali kota, hanya beberapa saat setelah Risma dilantik sebagai wali kota (2010), gara-gara Risma menaikkan pajak reklame di jalan-jalan protokol Surabaya. Risma tidak mau jalan-jalan protokol Surabaya jadi jelek karena baliho-baliho reklame segede-gede raksasa.

Maka marahlah anggota-anggota DPR itu (dari semua fraksi, kecuali fraksi PKS), termasuk Wisnu yang sama-sama dari fraksi PDIP bersama Risma. Anggota-anggota DPRD itu kemudian meminta Risma mundur dari jabatan wali kota.

Kalau berita yang saya baca itu benar, bisa dibayangkan bagaimana perasaan Risma (yang biasa melibatkan emosi sepenuhnya ketika bertugas) ketika ternyata Wisnu menjadi wakilnya. Memang susah kalau bekerja terlalu emosi, tetapi kalau terlalu acuh tak acuh salah juga, kan?

_________________
Gambar
_________________


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Feb 20, 2014 10:18 am 
Offline
Prime Minister
<b>Prime Minister</b>
Avatar user

Bergabung: Sab Jul 16, 2011 11:58 pm
Post: 6377
Has Liked: 614 times
Been Liked: 112 times
Deskripsi diri: ...Simple...
Sebab Kami Menyayangi Ibu Tri Rismaharini

Catatan Kaki Jodhi Yudono

Pada minggu kedua bulan Februari ini, kita beroleh pelajaran berharga dari percakapan Najwa Shihab dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini melalui acara Mata Najwa yang ditayangkan melalui Metro TV pada 12 Februari 2014.

Lantas, Metro TV juga memutar ulang tayangan tersebut sepekan sesudahnya. Maka, kita pun menjadi saksi atas kebaikan hati perempuan bernama Tri Rismaharini ini. Cerita kebaikan beliau bermunculan di mana-mana, terutama melalui media sosial. Tak kurang, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Sarlito Wirawan menulis kesalehan perempuan sederhana yang hebat itu. Saya juga mendapatkan sebuah artikel di Kompasiana yang menulis begini:

Saat akan dipilih sebuah partai untuk mejadi calon wali kota Surabaya, dia menelepon seorang kiai pimpinan pesantren untuk meminta doa agar tidak terpilih menjadi wali kota. Alasannya, sebagai perempuan dia tidak sekuat Umar bin Khattab yang mampu memanggul beras untuk orang-orang miskin.

Hal ini tidak lepas dari cerita yang sampai kini terus diingatnya saat di sekolah madrasah dulu, dan entah mengapa cerita itu terus diingatnya saat menjadi wali kota, yakni cerita seorang ibu yang memasak batu untuk menghibur anaknya. Padahal sang ibu saat itu tidak punya sesuatu untuk dimasak. Bagaimanapun dan selama apa pun batu dimasak, maka juga tidak akan matang. Saat itu Khalifah Umar bin Khattab tahu karena "blusukan" ke kampung-kampung.

Ya, Bu Risma memang ingin meniru Umar bin Khatab sebagai seorang pemimpin. Yakni pemimpin yang tahu persoalan rakyatnya, terutama mereka yang miskin dan papa. Bu Risma juga ingin meniru sahabat Umar yang ingin menjadikan Surabaya seperti Madinah dalam hal toleransi beragama maupun antar-etnis.

Ketika Risma benar-benar terpilih menjadi wali kota, beliau pun melaksanakan keinginannya membantu satu per satu orang miskin di Surabaya agar kelak di akhirat dia tidak mendapat murka dari Allah SWT.

Selain datang ke berbagai kampung di Surabaya, dia juga mengumpulkan seluruh lurah dan camat agar mendata orang-orang yang membutuhkan bantuan di daerah mereka. Di mobilnya juga selalu ada beras yang dibawa.

Tak cuma di dalam negeri empati Risma terhadap rakyatnya teruji, saat di luar negeri pun ingatan Risma hanya kepada rakyatnya semata, tidak pada oleh-oleh barang mewah seperti yang dilakukan oleh bupati atau wali kota lain saat mendapat undangan ke negeri Swiss beberapa waktu lalu.

Saat di Swiss, si penulis blog di Kompasiana yang bernama Arif Khunaifi itu menulis, banyak sekali bupati dan wali kota sedunia yang belanja jam tangan. Irfan, kepala satpol PP yang mendampingi Ibu Risma, mengatakan bahwa harga jam tangan Rp 125 juta, dan sudah banyak bupati dan wali kota yang membelinya.

Kemudian Irfan datang lagi dan mengatakan, ada bupati yang wilayahnya masih bertetangga dengan Surabaya yang membeli jam tangan seharga Rp 275 juta. Kemudian Bu Risma mengatakan kepada Irfan agar tidak bercerita lagi mengenai mereka. Namun, Bu Risma sempat berpikir, dari mana mereka dapat uang sebanyak itu? Dia juga berpikir alangkah banyak beras yang bisa dibeli untuk orang miskin.

Ada hal yang selama ini kita cari bernama keteladanan, namun selalu saja luput kita dapatkan, lantaran sebagian yang kita kira bernama teladan ternyata tak lebih hanya kepura-puraan atau pencitraan.

Sampai akhirnya kita pun mendapat kesimpulan bahwa apa yang kita saksikan tentang pemimpin di televisi dan media lainnya tak lebih dari "tipu-tipu" dan bualan semata. Maka gambaran tersebut pun kian memperlihatkan bentuknya yang vulgar saat pemilu menjelang. Mereka yang kita tahu tak pernah terlibat dalam urusan orang miskin, kesehatan, pendidikan, dan masa depan bangsa ini, hari-hari belakangan "berpura-pura" jadi jagoan yang seolah peduli dengan derita wong cilik.

Untunglah, kepekaan kita sudah terlatih, tahu bagaimana memilah dan memilih; siapa yang tulus dan siapa yang berakal bulus.

Pengalaman juga yang akhirnya mengajarkan bahwa ada yang tak bisa dibuat-buat, dan itu bernama ketulusan. Sebuah kata yang mampu memancarkan resonansi dan menggerakkan siapa pun yang masih memiliki nurani dan rindu akan kebenaran.

Ketulusan dan teladan, itulah yang bisa kita tangkap dari Tri Rismaharini. Getaran yang dipancarkan dari ketulusan hati dan keteladanan Ibu Risma selama ini, menggerakkan sebagian besar pemirsa. Tanpa dikomando, para pemirsa pun turut menangis saat Ibu Risma menangis. Ikut tersenyum saat beliau tersenyum. Maka tak heran, jika pada hari itu Ibu Risma menjadi trending topic di jejaring sosial Twitter. Para pengguna media sosial itu pun berkicau menguatkan hati Risma dan memintanya tak mundur dari jabatan wali kota Surabaya lantaran rakyat di ibu kota Provinsi Jawa Timur itu masih membutuhkan kepemimpinan Risma. Bahkan Najwa Shihab sebagai pewawancara tak kuasa untuk "melibatkan" diri dengan segenap perasaan dan meminta Risma mengurungkan niatnya untuk mundur dari jabatan wali kota. Di Twitter ramai beredar kicauan dengan tagar #Saverisma.

"Ibu janji ya, enggak akan mundur sebagai wali kota Surabaya," pinta Najwa, sebuah permintaan yang tidak lazim dari seorang pewawancara (jurnalis) karena telah bertindak subyektif. Namun maklumlah, Najwa cuma manusia biasa, dan bisa jadi memang benar, Najwa menangkap keinginan yang tulus dari pemirsanya, terutama warga Jawa Timur yang menghendaki Risma tak mundur.

Risma menggeleng, dan dia tidak mau berjanji. Sebab katanya, dia takut berdosa jika melanggar janjinya. ”Nanti kalau saya dipanggil dan ditanya Tuhan dan saya tidak bisa menjawab, saya tidak akan masuk surga. Saya tidak mau tidak masuk surga!” ujar Risma.

Lalu Najwa pun mengingatkan Risma betapa rakyat Surabaya masih membutuhkan dirinya.

Saat disinggung mengenai rakyat itulah, air mata Risma meleleh. Kata-katanya lirih. Jika ada yang masih membuatnya bertahan pada jabatannya sebagai wali kota, ialah rakyat yang masih memerlukan kasih sayangnya sebagai seorang ibu, seorang wali kota. Ia mengaku, tugas yang diembannya sangat berat.

Maka Najwa pun bertanya, ”Masih tegakah Ibu mengundurkan diri sebagai wali kota, walaupun sudah menerima 51 penghargaan dan calon wali kota terbaik dunia? Apa yang saya harus katakan kepada warga Surabaya?”

Di dalam wawancara itu, selain membahas isu rencana pengunduran dirinya sebagai Wali Kota Surabaya, Risma juga menuturkan kisah anak-anak yang menjadi pekerja s3ks komersial di kawasan Dolly, Surabaya. Ia terisak. Bahkan tak mampu menjawab pertanyaan Najwa selanjutnya.

Menjelang akhir tayangan, Najwa kembali menanyakan niatnya untuk mundur. Berulang kali air mata Risma menetes, ia menangis. Terutama, ketika ditanya, apakah ia masih berkeinginan kuat untuk mundur, sementara banyak masyarakat kecil yang berharap kepadanya?

"Itu yang saya pikirkan. Saya cari mereka satu-satu. Anak yatim kami berikan makan tiga kali sehari, lansia, anak miskin bisa sekolah, anak miskin pandai kami berikan beasiswa. Bahkan, ada yang dikirim ke Malaysia untuk S-1 sampai S-3. Saya cari satu-satu. Saya minta ke lurah untuk mencari, saya nitip ke warga. Itu yang saya pikirkan. Itu saja yang jadi pertimbangan saya. Kalau yang lain, saya bisa ngatasin," papar Risma.

Risma mengaku, ada sejumlah risiko terkait jabatannya. Ancaman pernah diterima anaknya. Namun, ia mengaku ikhlas jika sesuatu terjadi padanya karena apa yang dilakukannya selama menjabat sebagai wali kota Surabaya.

"Saya sudah ikhlas kalau itu terjadi pada saya. semua hanya titipan, tinggal Tuhan kapan ambilnya. Itu rahasia Ilahi. Saya tidak tahu nanti sore, besok. Saya sudah sampaikan, itu risiko (ke keluarga). Waktu saya nyalon kan keluarga saya tidak ikhlas. Tapi, saya enggak ngira kalau jadi. Setelah jadi, saya jalani saja takdir Tuhan," katanya.

Ketika pertanyaan kembali mengarah pada keinginannya mundur, air mata Risma kembali menetes. Ini yang disampaikannya kepada para warga Surabaya.

"Saya selama ini sudah berikan yang terbaik untuk warga Surabaya. Semua yang saya miliki sudah saya berikan. Saya tidak punya apa-apa lagi, semua sudah saya berikan, ilmu saya, pikiran saya, bahkan kadang anak saya pun tidak terlalu saya urusi. Tapi, saya percaya, kalau saya urusi warga Surabaya, anak saya diurusi Tuhan. Saya sudah berikan semuanya, jadi saya mohon maaf," katanya dengan berurai air mata.
***

Wikipedia mencatat, perempuan bernama Ir Tri Rismaharini, MT, atau terkadang ditulis Tri Risma Harini lahir di Surabaya, Jawa Timur, 20 Oktober 1961 dan menjabat Wali Kota Surabaya sejak 28 September 2010.

Sebelum terpilih menjadi wali kota, Risma pernah menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan Kota Surabaya hingga tahun 2010.

Sederet taman kota yang dibangun di era Tri Risma adalah pemugaran taman Bungkul di Jalan Raya Darmo dengan konsep all-in-one entertainment park, taman di Bundaran Dolog, taman Undaan, serta taman di Bawean, dan di beberapa tempat lainnya, yang dulunya mati dan kini tiap malam dipenuhi oleh warga Surabaya. Selain itu Risma juga berjasa membangun jalur pedestrian dengan konsep modern di sepanjang Jalan Basuki Rahmat yang kemudian dilanjutkan hingga Jalan Tunjungan, Blauran, dan Panglima Sudirman.

Di bawah kepemimpinannya pula Kota Surabaya meraih tiga kali Piala Adipura yaitu tahun 2011, 2012, dan 2013 kategori kota metropolitan. Selain itu, kepemimpinan Tri Risma juga membawa Surabaya menjadi kota yang terbaik partisipasinya se-Asia Pasifik pada tahun 2012 versi Citynet atas keberhasilan pemerintah kota dan rakyat dalam berpartisipasi mengelola lingkungan. Pada Oktober 2013, Kota Surabaya di bawah kepemimpinannya memperoleh penghargaan tingkat Asia-Pasifik, yaitu Future Government Awards 2013 di 2 bidang sekaligus yaitu data center dan inklusi digital, menyisihkan 800 kota di seluruh Asia-Pasifik.

Belum setahun menjabat, pada tanggal 31 Januari 2011 Ketua DPRD Surabaya Whisnu Wardhana menurunkan Risma dengan hak angketnya. Alasannya adalah karena adanya Peraturan Wali Kota Surabaya (Perwali) Nomor 56 tahun 2010 tentang Perhitungan nilai sewa reklame dan Peraturan wali kota Surabaya Nomor 57 tentang perhitungan nilai sewa reklame terbatas di kawasan khusus kota Surabaya yang menaikkan pajak reklame menjadi 25 persen. Risma dianggap telah melanggar undang-undang, yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) nomor 16/2006 tentang prosedur penyusunan hukum daerah dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008, sebab Wali Kota tidak melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait pembahasan dan penyusunan Perwali.

Keputusan ini didukung oleh 6 dari 7 fraksi politik yang ada di dewan, termasuk PDI-P yang mengusungnya. Hanya fraksi PKS yang menolak dengan alasan tindakan pemberhentian dirasa "terlalu jauh" dan belum cukup bukti dan data.
***

Jalan Tuhan, itulah yang diambil oleh Risma. Karenanya, dia tidak pernah gentar dengan siapa pun dan apa pun sejauh dirinya melaksanakan tindakan untuk kepentingan rakyat Surabaya. Berbagai teror dan tekanan yang datang tak pernah menciutkan nyalinya untuk melangkah. Bahkan kepada keluarganya, Risma telah berpamit jika sewaktu-waktu maut menjemput saat dirinya bertugas, keluarganya harus mengikhlaskannya dan tak boleh menuntut siapa pun.

Semua yang dilakukannya bertumpu pada keyakinannya sebagai seorang Muslimah yang mengerti benar ajaran Nabi Muhammad, bahwa dirinya juga harus mengasihi mereka yang tak seiman. Ya, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW saat memimpin Madinah yang menjunjung tinggi keberagaman dan membentuk masyarakat madani. Seperti yang dicontohkan oleh sahabat Umar bin Khatab yang sedemikian takutnya kepada Tuhan jika dirinya tak mampu mengangkat kehidupan rakyatnya yang miskin dan papa.

Pada titik tertentu, sebagai manusia biasa, saya pun seperti Najwa dan juga masyarakat Kota Surabaya yang tak rela jika Risma mundur dari jabatannya sebagai wali kota. Sebab kami menyayangi Ibu Risma, kasih sayang yang terbit dari kebaikan Ibu yang telah mengasihi rakyat Surabaya tanpa batas. Jangan mundur Bu, jutaan orang yang masih menjaga nuraninya tetap bersama Bu Risma. Termasuk saya.

_________________
Gambar
_________________


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Feb 20, 2014 3:02 pm 
Offline
Super Star
Super Star

Bergabung: Kam Jan 26, 2012 8:49 pm
Post: 184
Has Liked: 3 times
Been Liked: 3 times
Kalau Najwa Shihab bisa jadi "subjektif" dalam wawancaranya -jarang kita bisa melihat Najwa Shihab memasukkan dorongan pribadinya ke dalam wawancara- jarang juga saya melihat profil individual di-stick ke bagian atas dari forum. Semoga inspirasinya menjadi teladan kita, semoga Bu Risma terus berkarya, dan semoga makin banyak pemimpin yang berlomba-lomba menjadi lebih baik daripada Bu Risma ;)


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Feb 20, 2014 3:33 pm 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Sen Apr 29, 2013 12:28 am
Post: 1831
Lokasi: Denpasar
Has Liked: 7 times
Been Liked: 10 times
Deskripsi diri: Ask me
Saya setuju dengan pendapat ibu Risma. Fungsi reklame di indonesia sebagian besar hanya untuk kepentingan komersial dan politik, tidak ada tujuan yang benar-benar berguna untuk masyarakat.
Penyewa reklame pun pasti berasal dari orang-orang yang berkeadaan ekonomi menengah ke atas.
Seorang walikota yang baik ingin diberhentikan hanya karena satu kebijakan yang merugikan parpol, dibandingkan kebaikannya yang mungkin tidak terhitung, sungguh Ironis.

_________________
"Understanding is the first step to acceptance, and through acceptance can there be recovery." - J.K. Rowling


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Feb 20, 2014 7:25 pm 
Offline
Super Model
Super Model
Avatar user

Bergabung: Sel Jul 19, 2011 3:10 am
Post: 423
Has Liked: 100 times
Been Liked: 5 times
sebenarnya ada karya lain yg lebih sering dibanggakan bu risma, yaitu anggaran yg serba elektronik dan online, yg jadi acuan BPK dalam memberi contoh anggaran bebas korupsi.
bahkan DKI (ahok) juga menjadikan surabaya sebagai role model dalam perencanaan anggarannya dan dimodifikasi. tapi karena perbaikan taman dan wajah surabaya yg kasat mata yg paling sering dipuji orang. jujur saja, kalau dulu hujan deras sebentar tapi genangannya lama surut, tapi sekaranp gak pake lama.


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sab Feb 22, 2014 1:11 pm 
Offline
Super Star
Super Star
Avatar user

Bergabung: Min Jul 24, 2011 3:12 pm
Post: 232
Lokasi: Yogyakarta
Has Liked: 19 times
Been Liked: 2 times
Terima kasih membagi ini.


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sab Feb 22, 2014 3:32 pm 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Sen Nov 28, 2011 10:00 am
Post: 1031
Lokasi: Earth Kingdom
Has Liked: 1 time
Been Liked: 12 times
Deskripsi diri: Plegmatis. Lemah terhadap hujan. Dan musik mellow. Dan cowok ganteng.
Saya sempat terharu saat menyaksikan Mata Najwa. Bu Risma itu kesannya di mata saya sangat... ah sekali :')

_________________
...bintang-bintang yang berkedip di langit. Mungil tapi tak pernah padam. Seperti itulah juga harapan. Jangan pernah mati untuk berharap bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya - Dimas.

"Andaikan aku terlahir normal, aku pasti akan menemukan cinta. Kerinduan tak tertahankan untuk memeluk seseorang."

Ayo berkorespondensi email. Bertukar cerita, bertukar kehidupan. Send me an email: ddaydreamers@yahoo.co.id :D


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sel Feb 25, 2014 10:13 am 
Offline
Celebrity
Celebrity

Bergabung: Rab Mar 14, 2012 12:00 am
Post: 2052
Lokasi: ♥ GIF's Junker ♥
Has Liked: 4 times
Been Liked: 23 times
anda benar, kemunduran tri dipacu oleh gubernur surabaya yang ingin membuat mall di suatu lahan penghijau-an kota surabaya, tetapi ditolak oleh tri , reklame juga.. :)

tri so great woman!
dukung tri!


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Rab Feb 26, 2014 12:40 am 
Offline
Super Model
Super Model
Avatar user

Bergabung: Rab Nov 23, 2011 7:20 pm
Post: 615
Lokasi: Biosphere
Has Liked: 3 times
Been Liked: 1 time
Deskripsi diri: Introvert
ah... sulit sekali menemukan sosok seperti bu risma ini, dan sosok lainnya yg memiliki integritas n kapabilitas
walaupun ada, mereka seperti orang yang terpinggirkan karena tidak mengikuti kebobrokan arus yg ada
kapan masyarakat indonesia mampu memilih pemimpin yang tidak hanya cakap berjualan kecap
#ironinegeri

_________________
"Some people are meant to Fall in Love with each other but not meant to be Together"


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Feb 27, 2014 9:20 pm 
Offline
Star
Star

Bergabung: Rab Jun 20, 2012 9:12 pm
Post: 59
Lokasi: Tangerang Selatan
Has Liked: 0 time
Been Liked: 0 time
manusia langka, kerja keras tanpa mau diliput media, kalau blusukan ga pernah diliput :')

Bu Risma... I'll go staight for you *eeh

_________________
GOD MADE ME A SINNER


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Jum Feb 28, 2014 11:09 am 
Offline
Prime Minister
<b>Prime Minister</b>
Avatar user

Bergabung: Sab Jul 16, 2011 11:58 pm
Post: 6377
Has Liked: 614 times
Been Liked: 112 times
Deskripsi diri: ...Simple...
Risma: Saya Tidak Akan Mundur

Meskipun mengaku semakin tertekan, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan, dirinya tidak akan mundur dari jabatannya karena dukungan dari masyarakat dan kalangan internal Pemerintah Kota Surabaya begitu kuat.

”Saya akan bekerja hingga masa jabatan selesai karena dukungan dari internal ataupun masyarakat agar saya tidak mundur terus mengalir meski sebenarnya saya semakin tertekan,” kata Risma kepada Kompas, Kamis (27/2/2014) malam.

Sebenarnya, niat untuk mundur pernah diutarakan Risma dalam pertemuan internal Pemkot Surabaya di ruang kerjanya di lantai 2 Balaikota Surabaya, Kamis pagi. ”Sejak dari rumah saya sudah niat, sudahlah mundur saja. Saya juga sudah ngomong sama suami dan anak-anak bahwa saya sudah tidak kuat lagi dan ingin pamit saja kepada seluruh internal pemkot dalam pertemuan tertutup,” katanya.

Dalam pertemuan itu, seluruh kalangan dalam pemkot justru meminta Risma tetap bekerja dan menyelesaikan masa jabatan hingga 2015. ”Mereka siap membantu saya untuk meneruskan pembangunan di kota ini. Dukungan serupa juga terus mengalir dari berbagai kalangan di Surabaya. Itulah yang membuat saya pun memilih bertahan,” ujar ibu dari dua anak ini.

Hasil pembicaraan dengan kalangan internal pemkot itu, lanjut Risma, diungkapkan ketika bertemu sejumlah warga yang hendak memberikan dukungan yang sudah menunggu di lobi Balaikota. ”Ya, sudahlah kerja saja, toh dukungan juga begitu kuat,” ucap Risma.

Sejumlah kalangan menyayangkan jika Risma jadi mundur. Agus Purnomo, warga Surabaya yang pernah menggalang aksi jalanan mendukung Risma pekan lalu, mengatakan, menolak jika Risma mundur. ”Saya seumur hidup tidak bisa menemukan sosok wali kota seperti Risma. Kalau jadi mundur, kami akan aksi besar-besaran,” ujarnya tegas.

Pakar transportasi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Prof Daniel M Rosyid, berharap Risma tetap bertahan sampai masa jabatan habis. Daniel dan sejumlah akademisi juga pernah menemui Risma untuk memberikan dukungan. ”Kalau benar mundur, ini menjadi kerugian besar bagi Surabaya dan PDI-P,” ujar Daniel.

Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana, ketika ditemui, membantah jika Risma menyatakan ingin mundur. ”Kalau ada kabar bahwa Wali Kota mau mundur, itu isu saja,” katanya.

Whisnu menegaskan, surat pengunduran diri dari Risma juga tidak pernah ada. Ia bahkan baru saja berkoordinasi dengan Risma pada Kamis sore untuk membahas pelaksanaan agenda kerja pada Jumat (28/2/2014).

Sekretaris Daerah Kota Surabaya Hendro Gunawan juga membantah jika Risma berpamitan dengan para kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) untuk mundur. Pertemuan dengan para kepala SKPD ada, tetapi itu hanya pertemuan rutin untuk koordinasi kedinasan.

Saat menghadiri sosialisasi penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak di Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya pada Kamis siang, Risma menegaskan, tak akan lari dari tanggung jawab hingga penutupan lokalisasi itu tuntas. Hal ini menegaskan dirinya tetap menjabat sebagai wali kota untuk mengawal persoalan lokalisasi di Surabaya.

”Panjenengan (Anda) adalah bagian dari pertanggungjawaban saya di hadapan Tuhan. Kita insya Allah tak biarkan panjenengan telantar,” kata Risma di hadapan peserta sosialisasi yang dihadiri warga di sekitar lokalisasi.

Di tempat terpisah, Ketua DPRD Kota Surabaya M Machmud mengatakan, persoalan proses pemilihan wakil wali kota Surabaya sudah selesai. Whisnu pun sudah resmi dilantik. ”Jika ada pihak yang menilai masih ada celah, silakan dilanjutkan ke pengadilan. Ini juga sesuai saran Komisi II DPR,” ujarnya.

_________________
Gambar
_________________


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Jum Mar 07, 2014 7:40 am 
Offline
Prime Minister
<b>Prime Minister</b>
Avatar user

Bergabung: Sab Jul 16, 2011 11:58 pm
Post: 6377
Has Liked: 614 times
Been Liked: 112 times
Deskripsi diri: ...Simple...
Rismaharini sebagai Politik Harapan
Oleh: Yudi Latif Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

DRAMA politik yang menyedot perhatian publik itu beruntung tak berujung sendu (sad end). Dengan jurus diplomasi kekeluargaan, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri, disertai bintang pendampingnya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, berhasil meyakinkan ”Superwali” Tri Rismaharini untuk tetap bertahan memenuhi harapan publik.

Peristiwa ini mengisyaratkan banyak hal. Sumber pesimisme dan apatisme publik terhadap politik tidaklah terletak pada ”sisi permintaan” (demand side), seperti sering didalihkan para politisi: rendahnya tingkat pendidikan rakyat, pragmatisme pemilih, dan kurangnya kesadaran politik. Sumber itu sebaliknya terletak pada kelemahan ”sisi penawaran” (supply side) dari ketidakmampuan aktor-aktor politik untuk membangkitkan kepercayaan rakyat. Sekali ada aktor politik yang dapat dipercaya, seperti Tri Rismaharini, kegairahan warga untuk terlibat secara politik kembali menguat.

Menurut Donna Zajonc dalam The Politics of Hope, untuk membangkitkan politik harapan, suatu bangsa harus keluar dari tahap anarki, tradisionalisme, dan apatisme menuju penciptaan pemimpin publik yang sadar. Pada tahap pertama, seluruh tindakan politik diabsahkan menurut logika pemenuhan kepentingan pribadi yang menghancurkan sensibilitas pelayanan publik.

Pada tahap kedua, untuk mencapai sesuatu, pemimpin mendominasi dan memarjinalkan orang lain. Pada tahap ketiga, peluang-peluang yang dimungkinkan demokrasi tidak membuat rakyat berdaya justru membuatnya apatis.

Pada tahap keempat, tahap politik harapan, para pemimpin menyadari pentingnya merawat harapan dan optimisme dalam situasi krisis, dengan cara memahami kesalingtergantungan realitas serta kesediaan melayani kepentingan publik dengan menerobos batas-batas politik lama.

Kekuasaan digunakan untuk memotivasi dan memberikan inspirasi keteladanan yang memungkinkan orang lain mewujudkan keagungannya. Warga menyadari pentingnya keterlibatan dalam politik dan aktivisme sosial untuk bergotong royong merealisasikan kebajikan bersama.

Masalah terbesar demokrasi di negeri ini adalah mismatch antara ledakan pemburu jabatan politik di satu sisi dan merosotnya kepercayaan rakyat kepada pemimpin politik di sisi yang lain. Situasi ini bisa membuat de-
mokrasi bersifat korosif dan koruptif. Seperti dikatakan Montesquieu, ”Prinsip demokrasi dikorup bukan saja ketika spirit kesetaraan hilang, melainkan juga ketika spirit kesetaraan yang ekstrem berlangsung—manakala setiap orang merasa pantas memimpin.”

Orang-orang eksentrik

Untuk memulihkan kepercayaan rakyat pada politik, yang diperlukan bukan sekadar pemimpin yang baik, melainkan pemimpin dengan kekhasan eksentrisitas, yang mengindikasikan kekuatan karakter, kebesaran jiwa, dan keliaran visi perubahan. Pemimpin yang tidak memedulikan bagaimana bisa dipilih ulang, tetapi memedulikan bagaimana keterpilihannya dijadikan pintu masuk bagi dekonstruksi dan rekonstruksi tata kelola pemerintahan secara sistemik.

Kreativitas sosial dan transformasi masyarakat memerlukan tumbuhnya eksentrisitas. Dalam hal ini, John Stuart Mill menengarai, ”Jumlah eksentrisitas dalam masyarakat pada umumnya proporsional dengan jumlah genius, kekuatan mental, dan keberanian moral yang dikandung masyarakat tersebut.” Defisit orang-orang eksentrik berkarakter, yang memiliki kekuatan mental, kebernasan gagasan dan keberanian moral untuk mengambil pilihan, menimbulkan rintangan besar dalam transformasi bangsa.

Desain institusi politik yang menekankan pada sumber daya alokatif (kekuatan finansial) ketimbang sumber daya otoritatif (kapasitas-karakter) menyempitkan kesempatan orang-orang eksentrik untuk memainkan peran politik. Padahal, terdapat sejumlah pengalaman empiris. Begitu partai politik memberikan kesempatan kepada figur-figur eksentrik untuk diusung menjadi pemimpin politik, prestasi kepemimpinan menggembirakan dan kepercayaan rakyat pada politik pulih kembali.

Superwali Risma adalah contoh persenyawaan yang baik antara eksentrisitas tokoh dan kesediaan partai untuk mengusungnya tanpa pertimbangan uang. Eksentrisitas Ibu Wali terlihat dari paradoks antara keluguan perangai dan keberanian bertindak; kesantunan berbusana muslimah dan keliaran visi; kesederhanaan penampilan dan ekselensi pelayanan serta kerapian tata kota; kemungilan tubuh dan kebesaran jiwa; antara keurakan ala ”bonek” dan kelembutan welas asih.

Menjadi wali kota tanpa kobaran ambisi dan modal membuatnya tidak mengalami konflik kepentingan dan berani bertindak; nothing to lose. Dalam waktu singkat, Surabaya yang dalam istilah Lewis Mumford bisa dilukiskan sebagai kota ”heterogenik” (penuh ambiguitas, kekumuhan, kekerasan, kemiskinan, disintegrasi, dan anarki) bisa disulap menjadi kota ”ortogenetik” (mengekspresikan tatanan keindahan, keadaban, dan keadilan).

Pada akhirnya, Sang Superwali benar-benar membuktikan keagungan politik seperti yang disebutkan oleh Harry Truman, ”Politik—politik luhur—adalah pelayanan publik. Tak ada kehidupan atau pekerjaan tempat manusia menemukan peluang yang lebih besar untuk melayani komunitas atau negaranya selain dalam politik yang baik.”

Kita harus mengkloning Sang Superwali ke kota-kota lain di negeri ini agar kepercayaan warga pada politik bisa dipulihkan dan negeri sebesar serta seluas Indonesia bisa meraih marwah dan kejayaan yang sepadan.

_________________
Gambar
_________________


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Jum Mar 07, 2014 5:20 pm 
Offline
Virgin & Newbie
Virgin & Newbie

Bergabung: Sen Agt 15, 2011 2:31 pm
Post: 18
Has Liked: 5 times
Been Liked: 1 time
anggota dprd cuman mau duit tok... itu bu risma di suru turun karna mmg anggota dprnya mau terima duit banyak dari hasil sewa iklan dijalan jalan emang ga tau diri mereka... ga pikir rakyat,dah tempat tinggal ga ada sungai kotor untung belum sampe separah jakarta klo dah separah di jakarta kasian la surabaya ini


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sen Mar 10, 2014 5:50 pm 
Offline
Super Star
Super Star
Avatar user

Bergabung: Min Agt 28, 2011 1:22 am
Post: 107
Has Liked: 4 times
Been Liked: 1 time
Indonesia butuh orang-orang teladan
Yang berjuang untuk rakyat
Save Risma

_________________
Your love is my reason to live,
and you are my reason to smile.

Dazz Room Blog


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Min Mar 16, 2014 6:14 am 
Offline
Super Model
Super Model
Avatar user

Bergabung: Sel Jul 26, 2011 9:39 pm
Post: 660
Lokasi: The Gates of Delirium
Has Liked: 0 time
Been Liked: 3 times
Deskripsi diri: An ordinary yet complex person who tries to be better all the time
Ga mau terlalu mencela oknum politisi. Pertama karena udah terlalu sering dilakukan orang lain. Tapi yg lebih dominan adalah karena toh oknum media yg 'menyuburkannya': giliran ada politisi yg hebat kayak Bu Risma malah ga diberi kesempatan untuk menjadi teladan.

Sebenernya pertama ngeh tentang beliau waktu mencetuskan wacana mengenai manfaat positif dari video games. Saat itu mulai makin percaya bahwa harapan masih ada bagi politik Indonesia x')

_________________
"This is the time and life that I am living, and I'll face each day with a smile". :)

Love - You Set The Scene; taken from the album "Forever Changes" (1967)



"A hero can be anyone. Even a man doing as simple and reassuring as putting their coat around a young boy's shoulders to let him know the world hadn't ended".

-Batman a.k.a. The Dark Knight (Bruce Wayne, portrayed by Christian Bale), in The Dark Knight Rises (2012).


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Rab Mar 19, 2014 10:02 pm 
Offline
Virgin & Newbie
Virgin & Newbie
Avatar user

Bergabung: Kam Mar 13, 2014 2:01 am
Post: 10
Has Liked: 0 time
Been Liked: 0 time
Wew, ada thread bu Risma di-sticky di forum GIF...

Aku juga suka dan kagum banget sama beliau. Kerjanya nyata dan tetap humble. Cuma menarik aja sampe thread ini di sticky. Hm. Semoga GIF bebas dari hal2 politik yang menjurus.


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Mar 20, 2014 9:41 am 
Offline
Prime Minister
<b>Prime Minister</b>
Avatar user

Bergabung: Sab Jul 16, 2011 11:58 pm
Post: 6377
Has Liked: 614 times
Been Liked: 112 times
Deskripsi diri: ...Simple...
little archer menulis:
Wew, ada thread bu Risma di-sticky di forum GIF...

Aku juga suka dan kagum banget sama beliau. Kerjanya nyata dan tetap humble. Cuma menarik aja sampe thread ini di sticky. Hm. Semoga GIF bebas dari hal2 politik yang menjurus.


Wah, Terry perlu sedikit komentar nich...
GIF pernah mengangkat beberapa orang dan di sticky kok.
Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Mantan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto dan terakhir sekarang adalah Tri Risma - Super Wali - dari Surabaya.
Dari saya pribadi, melihat banyak tokoh di Indonesia yang perlu dijadikan contoh, dan polemik yang Bu Risma hadapi juga antara orang pemerintah, yaitu Gubernur Jawa Timur, Bapak Soekarwo (dari Demokrat) serta Wakil Walikota Surabaya, Bapak Wisnu Sakti Buana (dari PDIP, saat ini menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Kota Surabaya, dan merupakan anak dari Soetjipto, mantan Sekjen DPP PDIP), jadi hal-hal politik menjurus mana yang dimaksud???

Cheers,



Terry

_________________
Gambar
_________________


Atas
 Profil  
 
Tampilkan post-post sebelumnya:  Urutkan sesuai  
Postkan topik baru Balas ke topik  [ 17 post ] 

Waktu dalam UTC + 7 jam


Siapa yang online

user yang berada di forum ini: Tidak ada user yang terdaftar dan 2 tamu


gay Tri Rismaharini - Walikota Surabaya Indonesia
Anda tidak dapat membuat topik baru di forum ini
Anda tidak dapat membalas topik di forum ini
Anda tidak dapat mengubah post anda di forum ini
Anda tidak dapat menghapus post anda di forum ini

Lompat ke:  


Gay Indonesia Forum is powered by phpBB® 2012 phpBB Group, Zend Guard V.5.5.0, and phpBB SEO