Gay Indonesia
http://gayindonesia.net
Tempat utk berbagi dan berdiskusi, persahabatan, teman dan cinta gay Indonesia



Sekarang ini Jum Okt 20, 2017 3:17 am

Waktu dalam UTC + 7 jam




Postkan topik baru Balas ke topik  [ 113 post ]  Pergi ke halaman Sebelumnya  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7  Berikutnya
Pengarang Pesan
PostDipost: Sen Okt 10, 2016 3:00 pm 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Rab Agt 24, 2011 1:34 pm
Post: 2156
Lokasi: surabaya
Has Liked: 5 times
Been Liked: 7 times
Jenis Kelamin, Gender, dan Orientasi: Apa Bedanya?



Ada artikel yang bagus sekali tentang penjelasan istilah "jenis kelamin, gender, & orientasi seksual". Patut dibaca untuk lebih memahami lagi terminologi seksualitas supaya kita bisa memahami & menggunakan sesuai konteks yang benar. SIlahkan klik judul tulisan di atas untuk membaca artikel aslinya. :)

_________________
Gambar
Read my mind through my bloggie (click on the picture above)
[center]Or you can just befriend me on Facebook.


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Okt 13, 2016 5:12 pm 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Rab Agt 24, 2011 1:34 pm
Post: 2156
Lokasi: surabaya
Has Liked: 5 times
Been Liked: 7 times
WHY AM I DIFFERENT?
On reasons of being gay




Ketika saya dipanggil untuk “Bon Malam” untuk memenuhi nafsu seksual mereka, sengaja saya tidak memakai celana dalam. Tidak perlu! Karena kejadian begini saya alami setiap malam. Maka begitu masuk di kamar para pemerkosa, saya akan langsung terlentang dengan mata tertutup, dan berusaha membunuh sendiri segala indera saya. Hanya beginilah cara saya melawan perlakuan mereka, dan sekaligus cara saya menghindari agar mereka tidak membunuh saya.
.
Saking seringnya saya dipanggil untuk Bon Malam, menyebabkan saya menjadi membenci vagina saya sendiri. Setiap kali saya mandi, saya selalu merasa jijik terhadap vagina saya sendiri. Saya tidak menyesal menjadi perempuan. Tapi saya tidak bisa menerima kenyataan, mengapa perempuan harus mempunyai vagina dan payudara? Itu semua hanya menjadi sasaran pelampiasan amarah dan pembalasan dendam. Setiap kali mereka memperkosa kami, selalu disertai kata-kata “inilah konsekuensi perempuan menjadi anggota PKI.” Mereka menghina dan memberi cap kami sebagai “pelacur”, “perempuan tidak bermoral”, dan pemerkosa jenderal-jenderal Angkatan Darat. Oleh karena itu, kata mereka, sudah setimpal jika kami pun harus mereka perkosa.

.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

.
Namanya Sudarsi. Ia berstatus sebagai mahasiswa senior jurusan Bahasa Inggris UGM pada masa-masa meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965. Ia sudah barang tentu tidak tahu apa-apa tentang rencana pembunuhan para jenderal elit militer, alih-alih terlibat langsung didalamnya. Tetapi nasib buruk tak dapat dihindari. Hanya karena ia merupakan anggota organisasi CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) yang notabene merupakan mitra politik PKI, ia menjadi salah satu yang diciduk dan dijebloskan ke tahanan. Di penjara, Sudarsi bersama para tahanan lain yang “dituduh” PKI harus menjalani interogasi dan penyiksaan berkepanjangan. Bagi para tahanan perempuan termasuk dirinya, siksaan itu harus ditambah pula dengan pelecehan seksual yang menghinakan martabat.
.
Sudarsi ditangkap di Kertosono. Setelah beberapa waktu ia dipindah ke Solo, lalu ke Jogja, hingga berakhir di kamp pengasingan di Plantungan, Semarang. Pada masa-masa berada dalam tahanan itulah Sudarsi bertemu dengan Prasti yang tak kurang-kurang merasa teraniaya. Prasti digelandang ke penjara hanya seminggu setelah melahirkan. Dalam waktu-waktu sulit tersebutlah, mereka berdua menjadi akrab. Mereka sering berbagi kesusahan, saling menguatkan hati ataupun badan yang payah setelah disiksa atau diperkosa. Didera trauma akibat pelecehan yang keji dan tidak manusiawi, Sudarsi dan Prasti pun mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda diantara mereka berdua. Mereka saling jatuh cinta…
.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

.
“Rata-rata orang jadi gay itu karena mereka punya masalah atau hubungan yang kurang harmonis dengan ayahnya.”
.
Teori ini dilontarkan oleh seorang teman. Teman saya tersebut, sebut saja Bembi, hanyalah satu dari segelintir teman gay yang saya kenal waktu itu. Ia beberapa tahun lebih tua dari saya dan lebih banyak memiliki pengalaman berkecimpung dalam pergaulan sesama kaum gay. Saya hanya baru-baru saja memberanikan diri berinteraksi dengan gay lain pada saat itu.
.
Dan saya merenungi apa yang ia katakan, lalu mengaitkannya pada kehidupan saya sendiri. Betul juga. Saya memang memendam semacam kebencian pada sosok Ayah. Sesuatu yang mengendap dan mengerak selama bertahun-tahun. Could it probably take a toll on my personality or the way I see things? Mungkinkah rasa benci tersebut perlahan-lahan menggerakkan saya untuk merasakan ketertarikan dan mendambakan kasih sayang dari sosok seorang lelaki? Saya mulai berkenalan dengan beberapa teman gay lain. Teori hubungan-ayah-dan-anak-yang-kurang-harmonis ini tampaknya juga cukup relevan pada kebanyakan kisah mereka. Tak pelak untuk beberapa waktu tiap kali pertanyaan “mengapa kamu jadi gay?” muncul, jawaban yang langsung terbersit dalam pikiran saya adalah: itu semua salah Bapak saya.
.
Gambar

.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

.
Kutipan:
“Emang bener itu alasannya? Emang gitu atau sekedar mencari pembenaran? Emang ada aturan yang mewajibkan korban perilaku s3ks homoseksual buat jadi gitu juga? Nggak kan? Meskipun pernah diperlakukan kayak gitu, kalau emang imannya kuat, straight ya straight aja, gay ya gay. That’s all. Thus, I never have a reason of being gay. I’m gay and I know it. Case closed.

.
Empat tahun lalu, paragraf di atas saya gunakan sebagai penutup postingan yang saya tulis di forum ini untuk menjabarkan opini saya terkait “asal-usul menjadi gay”. Ketika saya pertama kali menuliskan kalimat-kalimat tersebut, barangkali saya merasa begitu teguh hati dan penuh keyakinan. Saat membacanya lagi pada hari-hari ini, hati saya merasa masygul. Saya menyesali diri saya yang begitu pongah dan sok tahu.
.
Tetapi itu sudah bertahun-tahun lalu. Pada masa itu, saya sesungguhnya masih begitu hijau dan perspektif saya masih begitu sempit. Barangkali begitulah penyakit sebagian orang yang masih muda: merasa diri paling benar padahal pengetahuan yang dimiliki masih tidak ada apa-apanya sama sekali. Seiring berjalannya waktu, saya bertemu lebih banyak orang dan mendengar lebih banyak kisah.
.
Saya bertemu Dedi, sebut saja namanya begitu. Ia berusia tiga puluhan tahun, telah berkeluarga dengan seorang istri dan satu orang putra. Pada suatu obrolan ia bertanya pada saya, “Apa yang membuatmu jadi seorang homoseksual?” Saya hanya menggeleng. “Entahlah, saya rasa saya memang terlahir seperti ini.” Saat itulah ia bercerita tentang apa yang ia yakini adalah awal mula ia menjadi gay.
.
Itu adalah suatu masa saat ia masih jauh lebih muda. Ia pergi merantau ke kota Jakarta pada usia dua puluhan. Pekerjaan sulit didapat, dan setelah berupaya kesana-kemari, ia akhirnya diterima kerja sebagai pelayan di sebuah restauran (atau kafe, saya agak lupa). Ia bertutur, konon tempatnya bekerja itu cukup terkenal dan sering dikunjungi selebriti. Ia tentu senang bisa bertemu para pesohor yang biasanya hanya dapat ia lihat di televisi. Tetapi rupanya kesenangan itu pun tidak bertahan lama.
.
Gambar

.
Pada hari-hari awal ia mulai bekerja, ia merasa ada yang aneh dengan para pekerja lain di tempat itu. Ia merasa mereka memandanginya dengan cara yang janggal dan membikin risih. Ia pun sesekali mendengar mereka berkasak-kusuk dibelakangnya. Ia agaknya terheran-heran juga, tetapi selama tidak ada yang benar-benar menggangu atau merugikannya, ia berusaha untuk tidak terlalu terusik. Hingga suatu hari ia akhirnya memahami arti tatapan dan bisikan-bisikan aneh tersebut.
.
Shift-nya baru saja usai dan ia sedang dalam perjalanan pulang. Teman-temannya sudah pergi lebih dulu karena ia masih ada sedikit urusan yang belum selesai tadi. Tinggallah ia berjalan kaki sendirian hendak mencari kendaraan umum. Tahu-tahu, ada mobil yang melambat dan berhenti di sampingnya. Rupanya, manajernya yang juga dalam perjalanan pulang menawarinya tumpangan. Ia tentu saja merasa segan, namun tidak enak hati juga menolak tawaran baik dari si manajer. Maka masuklah ia ke mobil tersebut.
.
Tetapi, bukannya diantar ke rumah, Dedi malah dibawa ke tempat tinggal si manajer. “Mau ambil barang dulu sebentar,” begitu katanya. Itulah saat Dedi akhirnya mulai memahami arti tatapan dan kasak-kusuk aneh dari rekan-rekan kerjanya. Si manajer ini rupanya seorang predator s3ks yang gemar mengincar “anak baru”. Sudah jadi semacam tradisi pribadi bagi si manajer untuk membawa pulang karyawan lelaki yang masih baru ke tempatnya untuk diperdayai secara seksual. Teman-temannya yang lebih dulu bekerja di situ telah paham soal ini, mereka pun semua telah menjadi korbannya. Naasnya, tak ada satu pun yang memperingatkan Dedi.
.
Sehari dua malam Dedi “disekap” di tempat tinggal si manajer. Selama berada di sana, ia dicekoki minuman beralkohol hingga mabuk sebelum kemudian dipaksa melayani nafsu seksual si manajer. Ia bahkan bercerita, saat pertama kali ia disuruh mengulum penis si manajer, ia sampai muntah-muntah begitu hebat. Meski begitu, si manajer tetap mendesak Dedi untuk meladeninya dengan ancaman yang sungguh tertebak: jika sampai Dedi menolak, si manajer akan memecatnya dari pekerjaan yang sekarang dan mempersulit upayanya mencari pekerjaan lain berikutnya.
.
Saya merasa tercekat ketika Dedi menyelesaikan ceritanya. Saya sering mendengar kisah-kisah serupa. Tentang orang-orang yang mengalami pelecehan seksual pada masa lalunya. Kemudian setelah beberapa waktu, imbas trauma yang mereka alami jadi “mengubah” orientasi seksual mereka. A-few-years-younger version of me would have rolled my eyes on that statement. Barangkali dengan entengnya saya akan menanggapi, “Meskipun pernah diperlakukan kayak gitu, kalau emang imannya kuat, straight ya straight aja, gay ya gay.” Tetapi setelah mendengar langsung cerita tersebut dari Dedi, seseorang yang saya kenal dan temui langsung di dunia nyata, bukan hanya kabar berita, saya jadi tersadar bahwa mendengar dan mengalami adalah dua hal yang sungguh jauh berbeda…
.
Gambar

.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

..
Selama bertahun-tahun saya terus belajar untuk bersyukur. Saya bersyukur saya tidak pernah menjadi korban perlakuan seksual yang tidak menyenangkan. Saya bersyukur saya sering mendapat kesempatan memperluas cara pandang dan pikir saya. Yang terutama saya bersyukur saya mampu berdamai dengan banyak hal dalam kehidupan saya.
.
Saya tidak lagi menyalahkan Bapak saya atas orientasi seksual saya yang berbeda. Saya tidak lagi bertanya-tanya, “Tuhan mengapa aku diciptakan berbeda?” Bukan karena saya telah menemukan jawabannya, sama sekali tidak. Pun tidak ada kejadian atau momen tunggal yang memicu pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk berhenti berdatangan. Barangkali waktulah yang mengajari saya untuk berhenti “bertanya” dan mulai “menerima”.
.
Pertanyaan-pertanyaan tentang “asal-usul” tidak lagi mengusik benak saya. Sebab, (1) saya tidak akan pernah menemukan jawabannya. Pada suatu titik barangkali saya mengira telah memecahkannya, tapi dapatkah ia diverifikasi dengan sangat pasti? Tidak. There is no way to verify the truth of what we think is the answer. Seterusnya ia tetap akan jadi misteri. Lagipula, (2) kalau sudah ketemu, lalu apa?
.
Saya bisa memaklumi bahwa “mempertanyakan” adalah suatu hal yang wajar dan sebetulnya justru perlu, sebab ia adalah bagian dari proses pendewasaan. Dari tahap mempertanyakanlah kita bisa beranjak pada tahap merenungkan dan inilah proses yang penting. Tetapi bahkan ketika kita kira telah menemukan jawabannya, tidak akan ada yang dapat kita ubah atau lakukan tentangnya. Kita tidak akan bisa mengubah orientasi seksual kita seperti halnya menekan sebuah tombol. Tetapi kita bisa mengubah cara pandang kita dalam memaknai dan menyikapi kehidupan serta kebahagiaan. Bukan mengapa saya gay yang penting, tetapi bagaimana saya menyikapinya. Dalam perjalanan yang saya lalui pun saya mulai memahami bahwa bukan jawaban yang sebetulnya kita cari, melainkan kedamaian dan ketenteraman hati. Saya bisa saja terus-terusan merutuki keadaan dan menyalahkan siapapun yang bisa saya salahkan untuk hal ini. Atau saya bisa berdamai dan meneruskan hidup dengan perspektif baru yang lebih luas. Saya memilih yang kedua.
.
Pada titik ini, saya juga sudah tidak lagi bersikap antipati terhadap orang-orang seperti Dedi. Saya tidak pernah berada pada posisi mereka (dan saya bersyukur untuk hal itu). Saya tidak tahu sama sekali rasanya mengalami apa yang mereka alami. Maka ketika mereka berpikir pelecehan seksual adalah apa yang mengubah mereka menjadi gay, saya sama sekali tidak punya hak untuk mencibir atau menghakimi. Dedi memang akhirnya menikah dengan perempuan. Tetapi hingga belum lama ini saya masih melihatnya aktif di Grindr dengan headline yang berganti-ganti antara “looking for fun” atau “looking for serious”. Saya tidak hendak mengatakan apa-apa padanya soal itu. Nasib menjadi korban pemerkosaan tentu berada diluar kendalinya. Tetapi bagaimana ia memilih menjalani hidupnya kini adalah pilihan yang sepenuhnya ada ditangannya.

.
Because only we can determine our own future. Only we can define our own happiness.
.
Bagaimana denganmu? Masihkah kamu bertanya-tanya? Atau sudahkah kamu menemukan apa yang kamu cari?
.
Gambar

.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

.
Prasti dan saya saling mencintai. Perasaan saling cinta diantara kami berdua bukan datang tiba-tiba. Juga kami berdua merasakannya sebagai perihal yang wajar. Pada satu pihak kami sudah merasa jijik melihat apalagi disentuh oleh alat kelamin laki-laki, dan pada pihak lain kami ingin memulihkan harkat dan martabat vagina dan payudara kami. Kami tidak ingin organ-organ seksual tubuh kami dipakai sebagai alat permainan laki-laki dan kekuasaan politik! Bagi kami berdua sama sekali tidak aneh, apabila saya dan Prasti saling mencintai. Tapi tentu saja kami sadar, apabila perilaku kami berdua tidak atau belum dianggap lazim oleh pandangan masyarakat kita.

Sebenarnya saya tidak pernah tahu, apa sesungguhnya arti lesbian. Apa yang saya ketahui dan rasai, tidak lain kecuali kami saling mecintai. Kami tidak pernah melakukan hubungan seksual seperti layaknya laki-laki dan perempuan. Apa yang kami lakukan hanya saling membelai dan berpelukan, ketika kami sedang merasa pedih dan sakit. Apa salahnya jika kami mandi bersama, dan sementara itu saling gosok-menggosok tubuh? Apa karena itu kami lalu menjadi lesbian? Kami saling mencintai, dan menjadi merasa kuat menghadapi tekanan dari luar. Apakah itu tekanan dari keluarga, tetangga sekitar, dan masyarakat. Mengapa itu dilaknat dan dikutuk sebagai perbuatan melawan Tuhan? Bukankah salah satu sisi utama wajah Tuhan ialah Cinta Kasih? Tapi mengapa, bahkan negara pun menolak eksistensi kami?
(*)

.
Gambar


NB: Paragraf-paragraf bercetak miring pada bagian awal dan akhir tulisan ini saya kutip dari buku “Suara Perempuan Korban Tragedi ’65” yang disusun oleh Ita F. Nadia (2008). Buku ini adalah kumpulan wawancara terhadap para perempuan yang menjadi korban penahanan sepihak dan penyiksaan oleh aparat setelah meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965. Kisah yang dituturkan oleh Sudarsi (nama samaran) ini menjadi salah satu yang membuat saya merasa perlu merekonstruksi pandangan saya terhadap orang-orang yang mengalami trauma akibat pelecehan seksual dan bagaimana hal tersebut bisa mempengaruhi orientasi seksual mereka.

_________________
Gambar
Read my mind through my bloggie (click on the picture above)
[center]Or you can just befriend me on Facebook.


Diubah terakhir kali oleh grisham on Kam Mei 11, 2017 4:51 pm, total pengubahan 2 kali.

Atas
 Profil  
 
PostDipost: Rab Okt 19, 2016 11:49 pm 
Offline
Virgin & Newbie
Virgin & Newbie

Bergabung: Min Sep 25, 2016 12:24 pm
Post: 23
Has Liked: 0 time
Been Liked: 0 time
Deskripsi diri: A little bit of everything
Hey Grisham...

Baru nyadar ternyata kamu veteran di forum ini. hmmmm....

Well...
I'd like to know more about your stories and your thoughts too!!! :)

Sincerely,
Your new neighbor ;)


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Kam Okt 20, 2016 7:27 am 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Rab Agt 24, 2011 1:34 pm
Post: 2156
Lokasi: surabaya
Has Liked: 5 times
Been Liked: 7 times
Terima kasih dia0109 udah mampir. Yep, I've been around for years hahaha

_________________
Gambar
Read my mind through my bloggie (click on the picture above)
[center]Or you can just befriend me on Facebook.


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sen Okt 24, 2016 7:22 pm 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Rab Agt 24, 2011 1:34 pm
Post: 2156
Lokasi: surabaya
Has Liked: 5 times
Been Liked: 7 times
Matt & Blue, A Freakin Cute Gay Couple (& Family)

Gambar

These guys are just freakin ADORABLE!! Awalnya nggak sengaja berkunjung kesalah satu video yang mereka upload di YouTube yang link-nya di-share oleh sebuah gay fanpage di Facebook. Akhirnya jadi liat-liat video mereka yang lain daaan... subscribe-lah ke channel mereka. They're both gorgeous (they have those killing eyes and smiles, ugh). They're funny. And their son is very cute. What a perfect little family! Relationship goal banget sih ini. Huhuhu *brb nyari pasangan yang bisa kek gini*

Omong2, ini video mereka yang saya tonton pertama kali:



SO CUTE RIGHT?!


Gambar

Gambar

Gambar

_________________
Gambar
Read my mind through my bloggie (click on the picture above)
[center]Or you can just befriend me on Facebook.


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Jum Okt 28, 2016 3:19 pm 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Rab Agt 24, 2011 1:34 pm
Post: 2156
Lokasi: surabaya
Has Liked: 5 times
Been Liked: 7 times

Ditulis oleh: Ayu Utami



Kutipan:
CATATAN:
Ayu Utami adalah seorang penulis kawakan Indonesia. Dalam sebuah tulisan ia menawarkan sebuah "perspektif" bagi orang-orang relijius yang begitu anti pada kaum homoseksual. Ia menuliskannya tidak lama setelah ada kehebohan karena Manny Pacquiao menyebut kaum gay sebagai "lebih buruk dari binatang". Karena berlatarbelakang Katolik, Ayu menuliskan pendapatnya menggunakan kisah Sodom & Gomora dari alkitab. Tetapi ingat bahwa Ayu menawarkan "perspektif", jadi jangan keburu berprasangka atau kebakaran jenggot dulu. Semoga bermanfaat. :)

NB: Tulisan aslinya bisa dibaca di http://www.qureta.com/post/101-langkah-beriman-tanpa-homofobia tetapi harus membuat akun dan login terlebih dahulu. Karena itu saya salinkan tulisannya di sini tanpa saya tambahi atau kurangi selain catatan penjelasan ini.


1. Para monoteis yang anti kaum homo—termasuk Manny Pacquiao—mendasari kebenciannya dengan kisah Sodom dan Gomora. Tapi, ada baiknya kita baca dengan teliti apa sebenarnya yang diceritakan dalam Alkitab (setidaknya itu adalah salah satu sumber tertua yang bisa kita dapat dalam sejarah).

Kisah Sodom ada dalam Kitab Kejadian (Genesis) 18 & 19. Yang ingin versi lengkapnya, dengan bahasa Hibraninya sekalian, bisa ke ke biblehub.com. Bacalah. Jangan buru-buru membenci tanpa membaca.

2. Ceritanya, Tuhan sudah mendengar keluh-kesah tentang kelakuan orang Sodom dan Gomora. Ia hendak menghancurkan kota itu. Tapi Abraham punya saudara yang tinggal di Sodom. Lot namanya.

Abraham menawar pada Tuhan, agar jangan kota itu dihancurkan jika ada sepuluh saja orang baik di sana. (Awalnya ia berani pasang angka 50, tapi akhirnya ciut jadi sepuluh.) Tuhan setuju. Ia pun mengirim dua malaikat untuk mengecek. Marilah kita lihat apa kejahatan Sodom...

3. Dua malaikat yang tampak sebagai manusia itu disambut oleh Lot; diajak menginap di rumahnya. Tak berapa lama kemudian, rumah Lot digeruduk oleh seluruh lelaki kota, tua maupun muda. Mereka menggedor dan menuntut agar Lot menyerahkan dua tamunya. “Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka.”

Di sini cukup jelas bahwa warga Sodom memang mau memperkosa orang baru atau asing yang masuk ke wilayah mereka. Tapi, di sini tak hanya isu homoseksualitas, melainkan juga pemerkosaan. Terutama pemerkosaan terhadap yang lemah (orang asing yang tak punya pelindung).

Kita boleh berpikir sedikit lebih tajam: mana di antara dua hal itu—homoseksualitas dan pemerkosaan—yang sebenarnya merupakan dosa? Sebelum menjawab dengan emosional, mari kita lanjut baca ceritanya...

4. Lot mau melindungi tamunya. [Celakanya] Ia malah menawarkan dua anak perempuannya untuk dipakai ramai-ramai oleh para penggeruduk itu. [Gila banget! Tapi itulah yang tertulis.] Kata Lot, ini dua anak perempuanku masih perawan. “Perbuatlah yang kalian suka terhadap mereka. Tapi jangan ganggu tamuku.”

Waktu pertama kali baca teks ini, saya menjerit: sinting! Tapi konteks cerita lebih bisa difahami jika kita membaca teks-teks lainnya yang mengisahkan praktik pemerkosaan atau pembunuhan terhadap orang yang tak punya patron.

Kembali ke cerita: orang-orang Sodom tidak mau menerima tawaran itu dan kini menyerang Lot. Di sini masuk satu unsur lagi: mereka curiga kedua orang itu mata-mata. Ketika itulah kedua malaikat menyelamatkan lalu membawa keluarga Lot lari meninggalkan Sodom. Tuhan melebur kota itu.

5. Tarik nafas dalam-dalam. Dalam teks tak ada cerita tentang pesta orgi kaum gay. Tak ada gambaran tentang lelaki melambai. Yang ada justru gambaran tentang kekerasan seksual, baik terhadap lelaki, maupun terhadap perempuan.

Kalau mau jujur, yang dominan adalah kekerasan. Homoseksual maupun heteroseksual, teks ini bicara tentang kekerasan. Kalau mau spekulatif, kebetulan kali itu tamu Lot adalah lelaki. Tetapi jika orang asing itu termasuk perempuan, bukan tak mungkin penduduk Sodom tetap mau memperkosanya. Hemat saya, jangan memakai kisah Sodom untuk membenci kaum homo. Sebab ia lebih bercerita tentang kekerasan ketimbang homoseksualitas.

6. Lantas, apakah kita harus mengamini homoseksualitas dan mengatakan bahwa semburit-berburit itu perbuatan mulia? Tentu tidak begitu cara menarik kesimpulannya. Mari kita lihat lebih luas...

7. Ada banyak kisah tentang hubungan s3ks yang bisa dianggap tak pantas dalam Alkitab. Misalnya, anak yang tidur dengan ayah kandungnya (anak perempuan Lot dengan Lot). Menantu yang menjebak mertua agar hamil (Tamar terhadap Yehuda). Gadis yang merayu tuannya di lumbung (Ruth pada Boaz).

Kalau dikumpulkan dan dianalisa, bisa ditarik kesimpulan: Tuhan membiarkan kasus-kasus hubungan s3ks sekalipun dengan cara melawan aturan, jika: i) untuk kelangsungan keturunan, ii) tanpa kekerasan. Menariknya, dalam cerita-cerita itu, perempuanlah yang mengambil tindakan demi meneruskan keturunan.

8. Hubungan s3ks macam apakah yang dikutuk Tuhan dalam Alkitab? Ada satu cerita menarik, juga dari Kitab Kejadian. Alkisah pemuda Onan harus menikahi janda abangnya, sesuai dengan adat istiadat. Menurut adat, anak yang lahir nanti akan meneruskan garis keturunan abangnya. Onan tidak rela. Maka ia tak mau menghamili sang istri, yaitu janda kakaknya. Caranya? Coitus interuptus.

Tuhan geram dan membunuh Onan. (Tapi, syukurlah, nama Onan tetap dikenang dalam kata “onani”.) Nah. Kira-kira, apa yang membuat Tuhan marah? Sekali lagi, kita tidak menemukan hanya satu variabel. Kemungkinan jawabannya bisa: i) hubungan s3ks yang menolak berketurunan, ii) hubungan s3ks yang egois. Sila pikirkan!

9. Alkitab menyediakan cerita dengan banyak lapisan dan variabel makna. Toh kita bisa menarik kesimpulan yang cukup stabil. Misalnya, hubungan s3ks dengan kekerasan adalah jahat di mata Tuhan. Hubungan s3ks yang egois juga demikian. Di sisi lain, berketurunan adalah baik. Hubungan yang menolak keturunan adalah tidak baik.

Alkitab, bisa dibilang, tidak mengenal s3ks untuk kenikmatan. Dengan dalil-dalil tadi, kita bisa menyimpulkan bahwa onani, sodomi, dan lain-lain teknik bukanlah hal yang baik di mata Tuhan. Hal-hal itu umumnya dilakukan orang untuk kepentingan diri.

Tapi jangan takut. Justru di situ menariknya. Siapa sih yang tidak melakukannya? Pasangan suami-istri juga sering melakukan teknik-teknik yang bertujuan mencapai kepuasan saja. Paling tidak mereka kan harus menjaga kehangatan perkawinan sekaligus membatasi jumlah anak. Dan jangan bilang bahwa pasangan lelaki-perempuan tak mungkin melakukan an a l s3ks ya!

10. Hubungan s3ks sesama jenis jelas bukan hal yang dibenarkan Alkitab. Tapi, dosa kaum hetero tak lebih ringan dari kaum homoseksual. Dosa Onan tak lebih kecil dari Sodom. Memang butuh keberanian bagi orang beriman untuk mengakui bahwa hubungan s3ks yang ia lakukan bukan sesuatu yang suci-mulia (uh... memandangi pasangan dengan bernafsu, gairah untuk menguasai atau dikuasasi, tindakan menjilat-jilat, menggigit-menghisap, meremas, mengucapkan kata-kata tak pantas...) dan memang tak perlu mulia.

Lagian, kenapa juga harus mulia? Kalau kita bisa mengakui dengan radikal bahwa s3ks itu memang aneh dan agak sedikit memalukan, maka sebenarnya kita bisa mulai membebaskan diri dari obsesi menjadi suci sendiri. Termasuk obsesi mencapai s3ks yang suci-mulia dan menghukum yang tidak.

+1. Posisi moral orang beriman pun bisa demikian: Di satu pihak, menerima kedosaan kaum homoseksual sama dengan kedosaan kaum heteroseksual. Singkat cerita, tak usah membenar-benarkan homoseksualitas, tapi kaum hetero juga tak perlu merasa lebih suci dari kaum homo.

Di pihak lain, tetap memelihara perkawinan agama sebagai perikatan eksklusif lelaki dan perempuan. Pada saat yang sama, mengusahakan perlindungan bagi semua orang dari kekerasan dan pelecehan lantaran orientasi seksual. Terakhir, betul-betul membuka dialog tentang apa itu seksualitas manusia sebab begitu besar misteri yang meliputinya. Dengan demikian, orang bisa beriman tanpa membenci kaum gay.

Ah, tentu saja ada pilihan lain: menjadi tidak beriman. Tapi ateisme dan sekularisme juga belum tentu membebaskan kamu dari homofobia... (Eh, untungnya Bung Pacquiao minta maaf atas kata-kata kasarnya terhadap kaum gay ketika saya mengakhiri tulisan ini.)

_________________
Gambar
Read my mind through my bloggie (click on the picture above)
[center]Or you can just befriend me on Facebook.


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sel Nov 15, 2016 9:53 am 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Rab Agt 24, 2011 1:34 pm
Post: 2156
Lokasi: surabaya
Has Liked: 5 times
Been Liked: 7 times
THE CLOSET
on coming out



“Mas, mau sampe kapan kayak begini?”
.
Saya bangun pagi dan mendapati sms seperti itu pada ponsel, dikirim tengah malam buta oleh nomor tak dikenal. Karena sampai sekarang belum pernah punya pacar, saya cukup yakin sms itu pasti bukan dari seorang selingkuhan yang menuntut kejelasan atas hubungan gelap yang selama ini kami jalani. Hehehe Setelah saya tanyai balik, barulah saya tahu kalau pengirim sms itu ternyata adalah seorang teman gay yang sudah cukup lama kenal di Facebook, sebut saja namanya Frans.
.
Saya entah mengapa langsung saja berasumsi bahwa “kayak gini” yang dia maksud berhubungan dengan nasib masa depan sebagai kaum gay. Dan memang betul. Saya sering mengamati dari postingan yang dia buat di Facebook. Cukup jelas bahwa ia masih belum bisa sepenuhnya legowo dengan nasibnya yang terlahir mencintai lelaki. Paling tidak, dia masih gamang dengan masa depannya.
.
Maka sampailah kami berdua pada sebuah sesi curhat tipis-tipis. Frans lalu bercerita kalau dia sebenarnya baru bisa tenang kalau orang tuanya sudah tahu kondisi yang ia alami dan bisa menerima hal tersebut. Tapi dia dihantui oleh ketakutan yang sangat lazim bagi kaum seperti kita: bahwa ia akan ditolak, bahkan oleh orang-orang yang paling dekat dan terikat dengannya.
.
Gambar

.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

.
Seorang member grup gay yang pernah saya ikuti di whatsapp, sebutlah Yono, suatu kali berbagi kisah tentang pengalamannya melela (come out). Kejadiannya telah lebih dari sepuluh tahun lalu, pada tahun-tahun awal dia kuliah. Ia bercerita, mulanya ia memberanikan diri melela pada kakak-kakaknya. Oleh saudara-saudaranya tersebut, Yono diajak berkonsultasi dengan seorang psikiater sebelum akhirnya dibawa menghadap pada kedua orang tuanya. Ujung-ujungnya, ia diikutkan sesi hipnoterapi oleh keluarganya, dengan harapan ia bisa “sembuh” seperti sedia kala.
.
Lucunya, si psikiater, yang sebenarnya telah memberi testimoni bahwa homoseksualitas bukan penyakit yang bisa disembuhkan, akhirnya tetap saja melakukan hipnoterapi seperti yang diminta oleh keluarga. Barangkali namanya orang memang nggak bisa nolak duit kali ya. Hehehe… Pada akhirnya, hasil hipnoterapi tersebut tentu saja nihil. Meski tampaknya keluarga Yono tetap ingin meyakini sebaliknya. Konon bahkan hingga saat ia bercerita itu, meski telah lewat bertahun-tahun, Yono masih saja sering dijodoh-jodohkan dengan perempuan oleh keluarganya.
.
Saya yang agaknya terkesima dengan cerita Yono tersebut akhirnya menyinggung sedikit perkara melela ini dalam sebuah status di Facebook. Dalam status tersebut, saya tuliskan kekaguman saya pada mereka yang berani keluar dari dalam “kloset”, sebab saya sendiri tidak berani, juga tidak pernah kepikiran kearah sana pada saat itu. Beberapa orang tampak urun suara di kolom komentar.
.
Ada Doni yang bercerita bahwa ia pernah memiliki keinginan untuk melela pada ibunya, lalu batal karena khawatir dengan kondisi kesehatan beliau. Ibunya, yang ia sebut “pemikir”, pernah terkena serangan stroke sebelumnya. Ia takut, “kejutan” yang ia harap bisa berakhir dengan melegakan bisa jadi malah berubah membahayakan.
.
Ada juga Seno yang membagikan pengalamannya dalam kesempatan yang berbeda. Cerita Seno ini agak lain, sebab dialah yang terlebih dulu “dikonfrontasi.” Ada yang bilang bahwa naluri seorang ibu pada anaknya sangatlah kuat. Sepertinya demikian dalam kasus Seno. Entah bagaimana, suatu hari ibunya bertanya mengenai orientasi seksualnya. Tentang kemungkinan bahwa ia “berbeda” dari orang kebanyakan. Barangkali telah lama ia mengamati tanda-tanda pada gelagat anaknya yang tidak disadari oleh orang lain. Kepekaan seorang ibu.
.
Maka Seno pun mengaku. Dan tidak butuh waktu lama hingga ayahnya pun tahu persoalan ini. Untungnya, kedua orang tuanya tidak menempatkan Seno dalam posisi yang sulit. Mereka tidak menjadikannya terdakwa dalam sebuah sidang keluarga yang menyeramkan atau membawanya menemui psikiater, pemuka agama, paranormal, atau siapapun yang mereka harap bisa menyembuhkan “kelainan” yang ada pada anaknya. Mereka hanya berpesan agar ia semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri pada agama.
.
Yang paling happy ending adalah cerita dari Agus. Ia menuturkan bahwa ia telah melela kepada keluarganya sejak berumur 18 tahun, tepatnya saat ia masih di bangku SMA. Pada waktu-waktu setelahnya, ia juga tak segan membuka diri kepada teman-teman kuliah serta rekan-rekan kerjanya di kantor. Ia memang tidak terang-terangan membuat “pengumuman” atau semacamnya. Namun, jika saja ada yang bertanya langsung padanya tentang orientasi seksualitasnya, ia tidak lagi menyembunyikan diri. Untungnya, ia berada dalam lingkungan pergaulan yang terbuka dan ramah terhadap kaum dengan orientasi seksual yang berbeda. Bahkan secara khusus ia mengakui bahwa ia sama sekali tidak menyesali keputusannya untuk melela. Sebab, semenjak itu ia merasa hidupnya jadi lebih ringan dan bahagia…
.
.
.
(bersambung)

_________________
Gambar
Read my mind through my bloggie (click on the picture above)
[center]Or you can just befriend me on Facebook.


Diubah terakhir kali oleh grisham on Kam Mei 11, 2017 4:57 pm, total pengubahan 4 kali.

Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sel Nov 15, 2016 10:03 am 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Rab Agt 24, 2011 1:34 pm
Post: 2156
Lokasi: surabaya
Has Liked: 5 times
Been Liked: 7 times
THE CLOSET (2/3)



Saya pertama kali melela pada dua orang teman perempuan yang sudah saya kenal sejak SMP, sebutlah namanya Bella dan Keke. Kami berteman cukup dekat setelah menjadi teman sekelas pada tahun terakhir (sekolah saya memakai sistem acak kelas & siswa tiap pergantian tahun ajaran). Setelah lulus, kami berpisah karena melanjutkan sekolah ke tempat yang berbeda-beda. Saya memang mulai menyadari orientasi seksual saya yang berbeda sejak masih sering bersama mereka hampir setiap hari, tetapi peristiwa melela saya baru terjadi lima tahun kemudian, saat kami sudah sibuk kuliah atau bekerja.
.
Lantas apa yang memicu saya untuk melela pada mereka berdua waktu itu? Sejujurnya… tidak ada. Kami sudah bertahun-tahun tidak berkumpul dan suatu hari kami memutuskan untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Lalu gagasan untuk melela itu muncul begitu saja. There was no particular reason whatsoever. Dan semuanya mengalir begitu saja dalam obrolan yang kasual. Tidak ada kehebohan dan tidak ada drama.
.
Tetapi jika memang semudah itu, lantas mengapa harus menunggu selama lima tahun?
.
Saya memang selalu merasa nyaman dengan Bella dan Keke karena kami berbagi kesamaan. Keke adalah seorang lesbian. Dia bahkan telah menjalin hubungan dengan perempuan sejak masih SMP. Saya dan Bella sama-sama tahu soal itu sejak dulu dan sama sekali tidak mempermasalahkannya. Sementara itu, Bella adalah seorang nonmuslim yang menempuh pendidikan di sekolah negeri. She’s a sweet, genuinely kindhearted girl. She really is. Tetapi Bella juga sangat kritis dan penuh rasa ingin tahu. Dia melontarkan banyak sekali pertanyaan di kelas saat pelajaran. It should be a good thing. Sayangnya, kebanyakan guru kami terlanjur terbiasa dengan metode mengajar satu arah dan beranggapan sebaliknya. Banyak guru yang tidak menyukai Bella “si gadis yang kebanyakan tanya”. Bottom line, Bella knows how it feels to be a minority. Being minorities to the society are our commonalities and one of the things that probably make us comfortable around each other.
.
Tetapi jika saya renungkan lagi saat ini, apa alasan saya menunggu hingga bertahun-tahun untuk mengungkapkan diri pada mereka barangkali adalah karena ketika saya masih bersama mereka, saya belum sepenuhnya meyakini seksualitas saya sendiri. Tidak seperti Keke yang sudah begitu berani menjalin hubungan dengan seseorang, hal terjauh yang saya lakukan saat itu hanyalah menikmati tayangan p0rno gay di internet. Jika seksualitas adalah sebuah danau yang dalam, maka saat itu saya baru mencelupkan diri sebatas mata kaki saja. Jadi, bagaimana mungkin saya mengakui apa yang bahkan belum saya pahami?
.
Gambar

.
Saya kira memang ada hal-hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu sebelum kita menyatakan siap untuk melela:
.
KENALI TERLEBIH DULU SEKSUALITAS KITA SENDIRI
Apa yang kita lakukan dengan melela sebenarnya adalah membuka diri pada orang lain dan berharap mereka bisa menerima kita apa adanya. Lantas bagaimana mungkin kita bisa berharap demikian jika kita bahkan belum bisa menerima apalagi mengenali diri kita sendiri? Seperti yang saya ceritakan di atas, saya bisa saja melela pada Bella dan Keke bertahun-tahun lebih awal, tetapi tidak saya lakukan sebab saat itu saya masih dalam tahap mengenali dan mempertanyakan seksualitas saya sendiri. Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk bisa memahami dan menerima diri saya seutuhnya. Barulah setelah itu saya merasa siap untuk melela.
.
(Ada sebuah artikel bagus yang menjabarkan prinsip-prinsip dasar mengenai seksualitas yang agaknya bisa membantu dalam menghadapi fase ini. Tautannya pernah saya bagikan dalam side note di blog ini, bisa dicek di sini.)
.
KENALI KEPADA SIAPA KITA AKAN MELELA
Suatu kali, teman saya, sebutlah Linda, asyik melihat-lihat galeri foto di ponsel saya, saat tiba-tiba saja ia berseru, “Apa ini mas?!”. Saya lupa beberapa saat sebelumnya saya baru saja menyimpan foto lelaki shirtless yang saya dapat dari Grindr (oops :p). Selama sekian detik saya jadi agak tergeragap. Tetapi entah dapat suntikan energi dari mana, seketika itu juga saya langsung melela pada Linda.
.
Saya memang tidak siap menghadapi “serangan mendadak” tersebut. Namun satu-satunya alasan yang masuk akal untuk menjelaskan mengapa saya bisa spontan melela pada Linda adalah karena saya mempercayai dia sepenuhnya. Kami telah berteman akrab untuk waktu yang lama dan kami telah saling mengenal dengan baik. Maka meskipun agak “terpaksa”, saya tidak mengalami banyak kesulitan melela pada Linda. Lain cerita jika kasus yang sama terjadi bukan dengan Linda. Barangkali saya akan berkeras mencari dalih untuk berkelit.
.
Dalam sebuah lingkungan sosial yang secara umum masih menempatkan kaum dengan orientasi seksual yang berbeda pada posisi yang sulit, melela merupakan sebuah pertaruhan yang cukup besar. Maka wajar jika kita perlu menyeleksi dengan baik pada siapa kita akan melela. Sebab kita akan secara tidak langsung meminta mereka ikut menanggung “rahasia besar” kita. Beberapa orang memilih melela kepada teman dekat terlebih dahulu sebelum beranjak ke saudara atau orang tua. Tidak sedikit juga yang memutuskan untuk membagi “rahasia” mereka pertama kali pada keluarga sebelum pada orang-orang lain. Siapapun itu, yang terpenting melelalah pada orang yang kita percaya dan membuat kita nyaman.
.
KENALI RISIKO YANG MUNGKIN TERJADI SETELAH MELELA
Melela merupakan semacam upaya mengendurkan belenggu yang melilit batin kita. Jika berhasil, kita bisa menjalani hidup lebih bahagia karena ada beban yang sedikit berkurang. Tetapi sekali lagi, melela juga adalah sebuah pertaruhan. Teman yang sudah diakrabi bertahun-tahun, yang begitu baik dan dapat dipercaya, tanpa disangka bisa mulai menjauh bahkan berbalik menjadi musuh setelah tahu bahwa kita memiliki orientasi seksual yang berbeda. Jangankan teman, dengan keluarga pun hal seperti ini bisa saja terjadi.
.
Gambar

.
Ketakutan dan kekhawatiran seperti yang dirasakan Frans jadi bisa dimaklumi. Melela kepada kedua orang tua yang telah melahirkan, merawat, dan menyayangi kita seumur hidup adalah perkara yang sungguh-sungguh besar. Saya bayangkan jika saja setelah melela ternyata teman-teman saya jadi membenci atau menghindari saya, saya selalu bisa mencari pertemanan yang baru. Tetapi kita tidak bisa mencari orang tua atau keluarga yang baru. Dan meskipun ada ungkapan yang bilang “darah itu lebih kental daripada air”, nyatanya masih ada saja kisah tentang orang-orang yang diusir dari rumah atau diputuskan ikatan kekeluargaannya setelah mengakui diri sebagai seorang homoseksual.
.
Apa yang terjadi pada Yono dan Seno masih lebih baik. Mereka masih “diterima”, meski tidak seutuhnya. Identitas sejati mereka sebagai seorang homoseksual memang seakan diingkari oleh keluarganya, tetapi hal terburuk yang bisa terjadi barangkali hanyalah sesekali terjebak pada situasi yang canggung. Ditolak, atau malah dibenci oleh keluarga, lebih-lebih orang tua sendiri, adalah hal yang sepenuhnya lain. Sungguh menyedihkan dan tak terbayangkan.
.
Bukannya menakut-nakuti, tetapi kita memang perlu mawas dengan kemungkinan-kemungkinan buruk seperti itu, agar kita tidak sembrono. Jika memang kita merasa telah mantap untuk melela, kita juga harus telah mempersiapkan diri untuk menghadapi apapun konsekuensinya, baik maupun buruk.
.
.
.
(bersambung)

_________________
Gambar
Read my mind through my bloggie (click on the picture above)
[center]Or you can just befriend me on Facebook.


Diubah terakhir kali oleh grisham on Kam Mei 11, 2017 4:59 pm, total pengubahan 5 kali.

Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sel Nov 15, 2016 10:13 am 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Rab Agt 24, 2011 1:34 pm
Post: 2156
Lokasi: surabaya
Has Liked: 5 times
Been Liked: 7 times
THE CLOSET (3/3)


This so much thought about coming out, it actually comes down to this ultimate question:
.
Perlukah saya melela?
.
Memang tidak ada yang menyenangkan tentang menjalani hidup dengan menanggung rahasia yang begitu besar. Secara umum, melela adalah sesuatu yang positif karena membantu mengurangi kegelisahan dan mengangkat sedikit beban dari pundak kita. Meski begitu, saya rasa tidak ada satu jawaban yang tepat dan pasti untuk pertanyaan di atas. Sebab masing-masing orang sebetulnya bisa dan berhak memiliki jawaban yang berbeda-beda.
.
Hingga beberapa tahun lalu, saya merasa melela bukanlah suatu perkara yang mendesak bagi saya pribadi, sebab fakta bahwa saya memiliki orientasi seksual berbeda tidaklah berimbas banyak pada aspek kehidupan saya yang lain. Saya memang gay, tetapi kehidupan yang saya jalani toh tetap “normal-normal” saja.
.
Tetapi waktu bisa mengubah banyak hal. Saya mulai berpikir tentang masa depan. Dulu, “masa depan” dalam angan saya adalah hidup di sebuah rumah sederhana di daerah pedesaan dengan seorang istri dan dua orang anak yang menggemaskan. Seiring perjalanan saya mengenali diri (betapa mengherankan bahwa “mengenali diri” bagi saya adalah proses yang tidak pernah berhenti), saya mulai menyadari bahwa masa depan seperti itu bukan lagi apa yang saya inginkan. Saya memang tetap ingin menghabiskan sisa hidup di samping orang yang saya cintai, meski tidak harus dalam ikatan pernikahan. Jika pun akhirnya menikah, saya nyaris pasti itu bukanlah dengan seorang perempuan. Dan untuk keputusan itu, saya kini merasa perlu untuk melela kepada keluarga.
.
Walau begitu, saya belum akan melakukannya dalam waktu dekat. Masih jauh sekali dari titik saya bisa meraih masa depan yang saya impikan. Lagipula, keluarga saya sangat kental dengan nuansa relijius dan konservatif. Sementara, saya masih belum bisa hidup mandiri. Saya masih belum punya cukup bekal persiapan untuk menghadapi risiko terburuk yang mungkin terjadi setelah saya melela. Saya perlu melela, tetapi saya tidak perlu terburu-buru.
.
Gambar

.
Ada pula yang barangkali tidak butuh melela sama sekali. Saya kenal seseorang, sebut saja Sugi, yang menyadari bahwa ia seorang homoseksual, tetapi bersungguh-sungguh mencari pendamping hidup seorang wanita. Ia sepenuhnya paham bahwa ia memang tertarik pada sesama lelaki, tetapi ia pun teguh hati tak ingin menjalin hubungan selain dengan wanita. Namun bukan hubungan semu yang cuma sebatas menutup-nutupi status, melainkan hubungan yang serius sebagaimana pasangan heteroseksual pada umumnya. Ia bahkan secara serius membentuk semacam support group untuk orang-orang yang berpandangan sama dengannya. Singkat cerita, konsep melela tidaklah relevan bagi Sugi.
.
Berbeda lagi dengan orang-orang yang dihantui ketakutan seperti Frans. Saya kira justru orang-orang seperti merekalah yang paling butuh untuk segera melela, apalagi jika ketakutan yang mereka rasakan begitu besar dan membahayakan (misalnya mengarah pada depresi dan perilaku destruktif). I think it only makes sense that the only way to deal with their fear is to actually face it. Bahkan kalaupun hasil akhirnya tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, being brave enough to face the ultimate fear and getting a closure, that still means a lot.
.
Ah, apapun itu, melela adalah pengalaman yang sungguh personal. Setiap orang memiliki dan menjalani kisah hidup yang berbeda-beda, begitupun dengan kepentingannya. Tak pelak, pertanyaan “Perlukah melela?” akan menuai jawaban berlainan saat diajukan pada orang yang berlainan pula. Saya perlu melela, jika tidak, saya bisa gila; Saya perlu melela, tapi tidak harus dalam waktu dekat; Mungkin saya akan melela suatu saat; Entahlah, saya mungkin perlu, mungkin juga tidak perlu melela; Saya sama sekali tidak perlu melela, saya sudah cukup puas dengan kehidupan saya sekarang; Saya akan melela pada si ini, tapi tidak pada si itu; dst. dsb.
.
Setiap orang punya jawaban mereka masing-masing…
.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

.
Sampai saat ini, saya sudah melela ke lima orang teman, semuanya perempuan. Keputusan saya untuk melela kini telah membawa pertemanan kami pada suatu tataran yang baru. Kami jadi bisa jauh lebih leluasa mengobrol, bahkan tentang hal-hal yang saya kira tidak akan bisa kami obrolkan sebelumnya. Perspektif kami dalam mendiskusikan beberapa hal juga jadi lebih kaya, given the fact that as a guy, I know some things about boys that girls don’t. :p Selain itu, kini di depan mereka saya tidak perlu lagi merasa malu atau risih untuk mengerlingkan mata jika ada pria tampan yang melintas sambil nyeletuk, “Eh, lihat tuh ada cowok cakep.” Hehehehe
.
Yang jelas, bagi saya pribadi, melela adalah pengalaman luar biasa yang sangat saya syukuri. Saya merasa terbebaskan dan lebih bahagia karenanya. Saya sungguh berharap teman-teman lain di luar sana juga bisa merasakan kebahagiaan yang sama.
.
[size=150]Cause we might be different, but nonetheless, we deserve to be equally happy. :)

.
Gambar

.
.
(end)
[/size]

-----------------------------

NB:
- Saya sempat mengontak Frans beberapa waktu lalu dan sejenak bertukar kabar. Ia bilang, saat ini ia sudah “pasrah” saja dengan nasibnya. Saya kira saya akan mengiriminya link tulisan ini. Hehehe
- Penggunaan kata melela pada tulisan ini terinspirasi oleh situs melela.org. Dalam halamannya, tertulis:
Kutipan:
Kata /melela/ sempat digunakan penulis Pramoedya Ananta Toer di dalam novelnya berjudul Bukan Pasarmalam yang terbit pada 1951. Kata /melela/ bermakna ‘menunjukkan diri dengan cara yang elok.’

Merujuk pada makna tersebut, kata /melela/ dapat digunakan sebagai padanan kata Inggris “coming out”.

_________________
Gambar
Read my mind through my bloggie (click on the picture above)
[center]Or you can just befriend me on Facebook.


Diubah terakhir kali oleh grisham on Kam Mei 11, 2017 5:01 pm, total pengubahan 2 kali.

Atas
 Profil  
 
PostDipost: Rab Nov 16, 2016 3:15 pm 
Offline
Virgin & Newbie
Virgin & Newbie

Bergabung: Min Sep 25, 2016 12:24 pm
Post: 23
Has Liked: 0 time
Been Liked: 0 time
Deskripsi diri: A little bit of everything
Dulu saya suka baca-baca kisah mereka yang sudah melela dan bahagia di melela.org!

Tapi apa memang kehidupan semua orang yang sudah melela pada akhirnya bahagia [atau bertambah bahagia] seperti yang dikisahkan situs itu?

atau perlu saya memastikan diri jika sudah dibutakan oleh imaginasi yang muncul akibat kisah-kisah yang saya baca?

Kebayang gak Zi, jika ada sebuah situs yang begitu kontradiktif dengan melela.org

Sebuah situs yang akhirnya mengungkap kehancuran diri orang-orang karena melela? bukan untuk menakut-nakuti tapi yang memberikan semacam gambaran bahwa "memang semenakutkan inilah ketika kita memutuskan untuk melela..."


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sab Nov 19, 2016 2:51 pm 
Offline
Super Model
Super Model
Avatar user

Bergabung: Sab Jul 16, 2011 7:39 pm
Post: 815
Lokasi: Surabaya
Has Liked: 3 times
Been Liked: 31 times
Deskripsi diri: Dengan kekuatan binan aku akan menghukum mu
Mau ngebaca kok rada males ya :|
Mending ceritain aja langsung ntar

_________________

More about me:

Gambar


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Min Nov 20, 2016 10:13 am 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Rab Agt 24, 2011 1:34 pm
Post: 2156
Lokasi: surabaya
Has Liked: 5 times
Been Liked: 7 times
dia0109 menulis:
Dulu saya suka baca-baca kisah mereka yang sudah melela dan bahagia di melela.org!

Tapi apa memang kehidupan semua orang yang sudah melela pada akhirnya bahagia [atau bertambah bahagia] seperti yang dikisahkan situs itu?

atau perlu saya memastikan diri jika sudah dibutakan oleh imaginasi yang muncul akibat kisah-kisah yang saya baca?

Kebayang gak Zi, jika ada sebuah situs yang begitu kontradiktif dengan melela.org

Sebuah situs yang akhirnya mengungkap kehancuran diri orang-orang karena melela? bukan untuk menakut-nakuti tapi yang memberikan semacam gambaran bahwa "memang semenakutkan inilah ketika kita memutuskan untuk melela..."



Di melela juga ada kok Dia beberapa kisah yang bercerita, setelah melela dia malah diusir sama keluarga dsb. Sure, it's not all rainbow and happiness, that's why I also put in there the things to consider, including the risk, supaya lebih berhati2 aja.

_________________
Gambar
Read my mind through my bloggie (click on the picture above)
[center]Or you can just befriend me on Facebook.


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Min Nov 20, 2016 12:26 pm 
Offline
Virgin & Newbie
Virgin & Newbie
Avatar user

Bergabung: Rab Apr 30, 2014 9:17 pm
Post: 16
Has Liked: 1 time
Been Liked: 0 time
Baguslah kalo kamu udah ada teman yg bisa kamu CO. :|


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Min Nov 20, 2016 2:20 pm 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Rab Agt 24, 2011 1:34 pm
Post: 2156
Lokasi: surabaya
Has Liked: 5 times
Been Liked: 7 times
unlimit216 menulis:
Baguslah kalo kamu udah ada teman yg bisa kamu CO. :|


Thanks Unlimit, sudah mampir dan baca2

_________________
Gambar
Read my mind through my bloggie (click on the picture above)
[center]Or you can just befriend me on Facebook.


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sen Nov 28, 2016 8:51 pm 
Offline
Super Star
Super Star
Avatar user

Bergabung: Rab Okt 26, 2011 2:39 am
Post: 214
Has Liked: 0 time
Been Liked: 5 times
Grishammmm,

Sudah melela ke ortu? Cerita dong kalo sudah.

Itu ada post malam pertama, trussssss malam kedua, ketiga keempat dan seterusnya bagaimanaaaa? hahahahahaha

Updatee lagi blognyaa bro


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sen Nov 28, 2016 9:24 pm 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Rab Agt 24, 2011 1:34 pm
Post: 2156
Lokasi: surabaya
Has Liked: 5 times
Been Liked: 7 times
vindicated menulis:
Grishammmm,

Sudah melela ke ortu? Cerita dong kalo sudah.

Itu ada post malam pertama, trussssss malam kedua, ketiga keempat dan seterusnya bagaimanaaaa? hahahahahaha

Updatee lagi blognyaa bro


Belum Vind. Masih lama kayaknya kalau ke ortu.

Kalau malam kedua, ketiga, dan seterusnya udah sama orang beda2 lagi, jadi gak ada ceritanya. Hahaha

_________________
Gambar
Read my mind through my bloggie (click on the picture above)
[center]Or you can just befriend me on Facebook.


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sen Nov 28, 2016 9:33 pm 
Offline
Super Star
Super Star
Avatar user

Bergabung: Rab Okt 26, 2011 2:39 am
Post: 214
Has Liked: 0 time
Been Liked: 5 times
Yaudah cerita apa gitu, berapa orang yang dicuri hatinya sama grisham? Atau berapa kali cintanya ditolak?

Hahahah


Atas
 Profil  
 
PostDipost: Sel Jan 10, 2017 8:21 am 
Offline
Celebrity
Celebrity
Avatar user

Bergabung: Min Jul 17, 2011 2:00 am
Post: 2269
Has Liked: 4 times
Been Liked: 8 times
Lala yeyeyehh.. awhh ugh eah
Mas grishaaaammmm :kiss:

_________________
Gambar You don't become a hero by being normalGambar


Atas
 Profil  
 
Tampilkan post-post sebelumnya:  Urutkan sesuai  
Postkan topik baru Balas ke topik  [ 113 post ]  Pergi ke halaman Sebelumnya  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7  Berikutnya

Waktu dalam UTC + 7 jam


Topik2 lain yg mirip di Gay Indonesia.net:
 Topik2   Pengarang   Balasan   Dilihat   Post terakhir 
Tidak ada post yang belum dibaca untuk topik ini. Ion's notes

[ Pergi ke halamanPergi ke halaman: 1 ... 22, 23, 24 ]

Ion

414

8959

Rab Okt 18, 2017 5:33 pm

grisham Lihat posting terbaru - Gay Indonesia Forum

Tidak ada post yang belum dibaca untuk topik ini. Spill-It Notes

horoku_san

14

322

Sen Jan 04, 2016 12:52 am

horoku_san Lihat posting terbaru - Gay Indonesia Forum

Tidak ada post yang belum dibaca untuk topik ini. The Trivial Notes

grisham

11

210

Kam Agt 03, 2017 8:40 pm

grisham Lihat posting terbaru - Gay Indonesia Forum

Tidak ada post yang belum dibaca untuk topik ini. FP Notes :02/10/2011 (new update) ==> Page 6

[ Pergi ke halamanPergi ke halaman: 1 ... 4, 5, 6 ]

fictionity

105

3360

Rab Jan 18, 2012 8:58 pm

rubymoon Lihat posting terbaru - Gay Indonesia Forum

Tidak ada post yang belum dibaca untuk topik ini. My Notes... (CATATAN 15012012 12:39 AM @page 19)

[ Pergi ke halamanPergi ke halaman: 1 ... 19, 20, 21 ]

creztcent

375

5257

Rab Feb 08, 2012 10:03 pm

creztcent Lihat posting terbaru - Gay Indonesia Forum

Tidak ada post yang belum dibaca untuk topik ini. my notes (hanya catatan kecil)

udee

10

457

Jum Nov 18, 2011 9:39 am

Shinclar Tamam Lihat posting terbaru - Gay Indonesia Forum

Tidak ada post yang belum dibaca untuk topik ini. WHISPER from the DEEP ~ oleander's heart notes

[ Pergi ke halamanPergi ke halaman: 1, 2, 3, 4, 5 ]

Oleander

74

2020

Min Mei 06, 2012 1:17 pm

Oleander Lihat posting terbaru - Gay Indonesia Forum

 


Siapa yang online

user yang berada di forum ini: Bing [Bot] dan 3 tamu


gay THE NOTES Indonesia
gay WHISPER from the DEEP ~ oleander's heart notes Indonesia
Anda tidak dapat membuat topik baru di forum ini
Anda tidak dapat membalas topik di forum ini
Anda tidak dapat mengubah post anda di forum ini
Anda tidak dapat menghapus post anda di forum ini

Lompat ke:  
cron


Gay Indonesia Forum is powered by phpBB® 2012 phpBB Group, Zend Guard V.5.5.0, and phpBB SEO